Pertanyaan Pembaca, Jawaban Birokrat Nakal: Bongkar Masalah Penulisanmu (Part 2)

Tips Menulis Syafree

Halo, bre. Kemarin kita sudah bahas beberapa pertanyaan. Sekarang, lanjut lagi. Beberapa dari kalian curhat soal masalah penulisan, dan aku coba kasih perspektif ala birokrat nakal yang kepepet nulis. Semoga ada yang nyangkut dan bisa jadi sekoci penyelamatmu.

1. Jumlah Karakter dalam Satu Bab?

Ini pertanyaan klasik. “Kak, satu part minimal berapa karakter? Takut kepanjangan bosenin, kependekan ngulang lagi.”

Bre, lupakan aturan baku. Jumlah karakter itu tergantung plot. Bukan berapa orang yang bisa kamu sumpel di satu bab. Kalau plotmu butuh 10 karakter penting, ya pakai 10. Kalau cuma 3 yang relevan, ya 3 saja. Intinya, setiap karakter harus punya fungsi. Apa dia menggerakkan cerita? Menambah konflik? Memberi informasi penting?

Kalau cuma numpang lewat buat rame doang, mending cut. Ingat, setiap karakter yang kamu munculkan itu tanggung jawabmu. Jangan tiba-tiba menghilang tanpa jejak kayak koruptor di akhir cerita. Pembaca pasti bingung.

Di bab pertama, kamu juga tidak perlu memunculkan semua orang. Singgung saja, bikin pembaca penasaran. Sisanya, munculkan bertahap. Itu namanya membangun ketegangan, bukan ngirit karakter.

2. Adegan Berantem Kok Nggak Dapet Feel-nya?

“Udah coba cara yang dikasih, tapi pas ditulis kok bingung, nggak dapet feel.”

Begini, bre. Nulis adegan berantem itu bukan cuma soal “dia meninju, lalu dia menendang.” Itu daftar belanja, bukan cerita. Kamu harus merasakan adegannya.

Coba bayangkan: apa yang karaktermu rasakan saat berantem? Adrenalin? Ketakutan? Marah? Sakit? Bagaimana bau darah? Suara hantaman? Napas yang terengah-engah? Lingkungan sekitar? Apakah ada meja yang pecah? Kursi yang terbang?

Karakter yang dibangun dengan baik, dengan motivasi dan emosi yang jelas, akan membuat adegannya terasa nyata. Kalau karaktermu datar, ya adegannya ikut datar. Itu logikanya.

3. Dialog Antar Karakter Nggak Sama Rata, Gimana Nih?

“Bingung bagi dialog, jadi nggak sama rata!”

Lagi-lagi, lupakan “sama rata.” Ini bukan jatah bansos. Dialog itu alat untuk cerita. Apakah dialog itu penting untuk plot? Untuk menunjukkan karakter? Untuk memajukan konflik?

Kalau satu karakter memang perlu banyak bicara untuk menjelaskan sesuatu atau menunjukkan dominasinya, ya biarkan saja. Kalau karakter lain lebih pendiam tapi setiap kalimatnya berbobot, itu juga nggak masalah. Yang penting, setiap dialog punya tujuan. Jangan cuma biar “sama rata” tapi isinya basa-basi sampah.

Perbanyak baca, bre. Amati bagaimana penulis lain membangun dialog. Bukan cuma novel, tapi juga skenario film, drama. Itu kan isinya dialog semua.

4. Sulit Menulis Bab 1, Takut Jiplak, Susah Cari Ide Original?

“Bab 1 selalu dihapus, kayak jiplak punya orang. Ide cerita menarik, tapi kok gitu ya?”

Ini penyakit umum. Rasa takut “jiplak” itu wajar, apalagi kalau kamu banyak baca. Tapi ada bedanya antara terinspirasi dan menjiplak.

Coba gini, bre: gali pengalaman pribadimu. Setiap orang punya kisah unik. Trauma, kebahagiaan, pengkhianatan, perjuangan. Itu semua bahan bakar. Pengalamanmu akan jadi filter unik yang membuat idemu beda.

Tapi ingat, pengalaman pribadi saja tidak cukup. Harus ada bumbu fiksi. Tambahkan misteri, pertaruhan (apa yang dipertaruhkan karaktermu?), dan konflik. Tanpa ini, pengalaman pribadi cuma jadi curhat di buku diary, bukan novel.

Misal, kamu pernah punya bos brengsek. Jangan cuma nulis “bos saya brengsek.” Kembangkan: bagaimana brengseknya dia memengaruhi hidupmu? Apa yang kamu lakukan untuk melawan? Apa konsekuensinya? Itu baru jadi cerita.

5. Nama Tokoh Asing, Boleh Nggak?

“Boleh pakai nama tokoh yang agak sulit diucapkan, ala-ala Chinese?”

Boleh saja, bre. Asalkan, pembaca masih bisa mengingatnya. Jangan sampai pembaca harus bolak-balik ke daftar nama setiap kali muncul karakter baru. Kalau terlalu rumit, bisa bikin pembaca malas. Ingat, tujuannya cerita itu dibaca, bukan jadi tes kemampuan melafalkan nama asing.

6. Bahasa Narasi Setelah Dialog Harus Baku?

“Kalau di Wattpad, narasi setelah dialog bahasanya harus baku kah?”

Iya, bre. Narasi itu tulang punggung ceritamu. Standar PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) itu penting. Dialog boleh kasual, sesuai karakter. Tapi narasi harus rapi. Ini menunjukkan profesionalitasmu sebagai penulis. Anggap saja seperti laporan birokrasi, harus jelas dan terstruktur.

7. Penerbitan Buku: Ribet dan Berbayar?

“Kak, kalau nerbitin buku jadi novel itu bayar nggak? Ribet nggak?”

Ada beberapa jalur, bre.

  • Self-publishing: Ya, ini butuh modal. Untuk cetak, desain cover, editing, promosi. Ribet? Banget. Kamu jadi CEO, marketing, editor, desainer, kurir, semua sendirian. Tapi kontrol penuh ada di tanganmu.
  • Penerbit Mayor (misal Gramedia): Gratis biaya penerbitan, tapi seleksinya ketat dan butuh waktu lama. Kamu harus kirim naskah bagus, siap revisi berkali-kali. Nggak semua naskah diterima.
  • Penerbit Indie/Minor: Ada yang gratis, ada yang minta biaya cetak. Tergantung kesepakatan. Prosesnya bisa lebih cepat dari mayor, tapi jangkauan distribusi mungkin tidak seluas mayor.

Intinya, kalau niatmu kuat, pasti bisa. Tapi jangan harap gampang. Di dunia ini, mana ada yang gampang kalau mau hasil bagus?

8. Email Naskah Gagal Terkirim?

“Penyebab email nggak mau terkirim apa ya? Mau kirim naskah ke redaksi tapi gagal.”

Coba cek lagi:
Alamat email redaksi: Sudah benar ejaannya? Jangan sampai salah ketik.
Ukuran lampiran: Mungkin filenya terlalu besar. Coba kompres atau unggah ke cloud lalu kirim linknya.
Kotak masuk redaksi penuh: Ini bisa terjadi kalau penerbit lagi banjir naskah. Coba kirim di jam/hari kerja.
Jaringan internetmu: Pastikan stabil.

Kalau masih gagal, coba cari kontak lain. Nomor telepon atau akun media sosial mereka. Jangan menyerah cuma karena email nggak terkirim. Itu masalah teknis, bukan takdir.

9. Mood Menulis Hilang Karena Masalah Pribadi?

“Pikiranku sering terganggu masalah pribadi, susah nulis. Butuh berminggu buat balikin mood.”

Kau benar. Ini masalah paling nyata buat penulis mana pun. Mood itu kayak sinyal HP, kadang ada, kadang hilang.
Jeda: Kadang kamu harus mundur sebentar. Meditasi. Jalan-jalan ke tempat tenang. Amati orang. Dengarkan percakapan di warung kopi. Cari inspirasi dari kehidupan nyata.
Asupan: Nggak harus baca novel orang. Baca jurnal, artikel berita, dokumenter, atau bahkan obrolan di Twitter. Cari apa pun yang relevan dengan ceritamu.
Pancing Emosi: Nonton film, dengerin musik yang jadisoundtrack* ceritamu. Biarkan emosimu teraduk. Seringkali, emosi itu yang jadi pemicu ide. Aku sering nulis sambil dengerin musik yang bikin aku ngerasain apa yang karakterku rasakan.

Jangan paksa kalau memang buntu. Tapi jangan juga pasrah berlama-lama. Cari pemicu. Itu kuncinya.

10. Ide Mirip, Apa Harus Ganti Adegan?

“Adegan mirip ‘Mia is Mine!’ season 2. Kayak plagiat. Harus ganti?”

Iya, bre. Ganti.
Pembaca itu jeli. Kalau mereka baca ceritamu dan langsung mikir, “Loh kok mirip ‘Mia is Mine!’?”, itu artinya kamu gagal. Kamu mau ceritamu jadi bayang-bayang cerita orang lain selamanya?

Ini bukan soal “kosakata diganti” atau “sedikit beda.” Ini soal esensi. Kalau adegannya, konfliknya, atau feel-nya mirip, itu jiplakan. Kamu harus gigih. Berkhayal di kamar mandi, di angkot, di mana saja. Cari ide yang lebih orisinal, yang benar-benar punyamu.

Dulu aku juga pernah ngalamin. Nggak nyaman sendiri pas nulis karena ngerasa mirip. Akhirnya cari ide lain. Semakin orisinal, semakin baik. Siapa tahu ide barumu malah lebih ikonik, lebih cuan. Wkwkwk.

11. Perbedaan “Ia” dan “Dia”?

Ini soal tata bahasa.
“Ia”: Tidak bisa jadi objek setelah kata kerja atau setelah kata depan (dari, kepada). Bisa merujuk benda mati/non-manusia. Contoh: “Buku itu jatuh,ia tergeletak di lantai.”
“Dia”: Hanya untuk manusia. Bisa jadi objek. Contoh: “Aku melihat dia.” (Bukan “Aku melihat ia.”)

Gampangnya, kalau untuk manusia dan jadi objek, pakai “dia.” Kalau untuk non-manusia atau subjek di awal kalimat, pakai “ia.” Tapi biar aman, kalau ragu, pakai “dia” untuk manusia, atau ganti dengan nama/subjek yang jelas.

12. Report Cerita di Wattpad, Akun Bisa Dibekukan?

“Kalau report cerita, authornya dapat notifikasi? Akunku bisa dibekukan?”

Setahuku, report itu nggak semudah ngeklik tombol. Ada prosesnya. Dan kalau alasannya mengada-ada atau tidak jelas, justru akunmu yang bisa kena sanksi. Pihak Wattpad akan menyelidiki.

Jadi, hati-hati. Jangan sembarangan report. Pastikan buktinya kuat. Kalau nggak, mending jangan ambil risiko. Akunmu itu aset, bre. Jangan sampai hilang cuma karena coba-coba iseng.

13. Part Cerita Acak/Tidak Lengkap di Wattpad?

“Part cerita acak atau nggak lengkap di Wattpad, padahal nggak diprivat.”

Ini masalah teknis, bre.
Urutan acak: Kemungkinan besar urutannya di dashboard-mu sendiri memang acak. Coba masuk ke akunmu via web (komputer), urutkan ulang part-nya, lalu jangan lupa klik “Simpan.”
Tidak lengkap: Bisa jadi masalah jaringan saat kamu upload. Coba upload ulang dengan koneksi yang stabil. Kadang Wattpad memang agak rewel soal ini.

Cek lagi di perangkat lain, atau coba minta temanmu cek. Pastikan semua part sudah terunggah dengan benar dan urutannya pas.

—

Oke, bre, itu dulu. Semoga jawaban-jawaban ini nggak bikin kamu tambah pusing. Ingat, menulis itu proses. Nggak ada jalan pintasnya.

Kalau kamu butuh panduan untuk menata naskahmu biar rapi, nggak acak-acakan kayak hidupku, atau biar alurnya jelas kayak laporan dinas, mungkin “Ebook Selesaikan Naskahmu” bisa jadi peganganmu. Aku mengamati, banyak penulis pemula yang idenya bagus tapi struktur dan alurnya amburadul. Ebook ini bantu kamu merapikan itu. Cek di link ke Selesaikan Naskahmu.

—