Pagi, siang, atau malam, tergantung kapan kamu baca ini. Banyak yang kirim pertanyaan ke saya soal nulis. Macam-macam. Dari yang teknis sampai yang soal mood. Saya kumpulin beberapa yang paling sering muncul, biar bisa kita bahas bareng. Mungkin ada yang cocok sama masalahmu sekarang.
1. Jumlah Karakter dalam Satu Bagian Cerita
Pertanyaan: Satu part cerita minimal berapa karakter, Kak? Bingung kalau kepanjangan jadi membosankan, kalau kependekan harus ulang lagi.
Bre, soal karakter itu bukan soal “minimal berapa”. Ini soal relevansi. Apakah karakter itu penting buat plot yang sedang berjalan? Kalau plotmu butuh 10 karakter untuk adegan itu, ya masukkan saja. Kalau cuma butuh 3, ya 3 saja. Intinya, setiap karakter yang muncul harus punya tujuan. Jangan tiba-tiba nongol terus hilang tanpa jejak, pembaca bisa bingung. Itu namanya “tanggung jawab penulis”.
Untuk part awal, kamu tidak perlu memunculkan semua karakter. Cukup singgung beberapa, biar pembaca penasaran. Sisanya bisa muncul di part berikutnya. Bangun perlahan.
2. Adegan Berantem yang Nggak Ngena
Pertanyaan: Kak, kalau adegan berantem gimana? Udah coba, tapi kok nggak dapet feel-nya.
Kalau soal adegan berantem, coba bayangkan. Detail. Gerakan. Suara. Bau. Kalau karaktermu sudah dibangun realistis, adegannya juga akan terasa realistis. Jangan cuma bilang “mereka berantem”. Deskripsikan Michael Corleone yang dingin, menghitung setiap gerakan lawannya, atau Bruce Wayne yang mengandalkan teknik dan gadget. Apa yang dia rasakan? Apa yang dia lihat? Lebih penting lagi, apa yang dipertaruhkan dari adegan itu?
3. Dialog Antar Karakter yang Nggak Rata
Pertanyaan: Bingung bagi dialog antar karakter, jadi di ceritaku setiap karakter nggak sama rata!
Tidak masalah kalau dialognya tidak sama rata. Memangnya setiap orang di dunia nyata bicara dengan porsi yang sama? Tidak, kan? Ada yang cerewet, ada yang irit bicara. Yang penting, setiap dialog itu punya fungsi. Apakah dialog itu mendorong plot? Mengungkapkan karakter? Atau sekadar basa-basi yang tidak perlu? Kalau tidak penting, potong saja. Kurangi “bloating” verbal.
4. Sulit Mencari Ide Cerita yang Original
Pertanyaan: Susah cari ide cerita yang bagus, nge-feel, dan alurnya nyambung. Kayak jiplak punya orang.
Kau benar. Ini masalah klasik. Untuk ide, coba gali dari pengalaman pribadi. Setiap orang punya pengalaman unik. Trauma, kesenangan, pengamatan sehari-hari. Itu semua bisa jadi bahan bakar. Tapi ingat, pengalaman pribadi saja tidak cukup. Harus ada misteri, pertaruhan, dan konflik. Kalau kurang, ya tambahkan fiksi. Walter White dari guru kimia jadi raja narkoba, itu kan berangkat dari krisis pribadi. Atau Arthur Fleck yang jatuh ke kegilaan karena sistem yang abai. Intinya, ambil yang nyata, lalu bumbui dengan fiksi yang masuk akal.
5. Penggunaan Nama Tokoh yang Sulit Diucapkan
Pertanyaan: Bolehkah memakai nama tokoh yang agak sulit diucapkan seperti nama Chinese (Huang Ju Chen, Xiao Yang)?
Tidak masalah, bre. Pakai saja. Asalkan pembaca masih bisa mengingatnya. Jangan sampai pembaca harus bolak-balik ke daftar nama setiap kali ada karakter baru muncul. Nama itu identitas, tapi juga harus fungsional.
6. Bahasa Narasi Setelah Dialog di Wattpad
Pertanyaan: Kak, kalau di Wattpad itu setelah dialog ada ceritanya, bahasanya harus baku kah? Maksudnya narasinya.
Iya, sebaiknya baku. Narasi itu tulang punggung ceritamu. Dialog boleh kasual sesuai karakter, tapi narasi harus rapi. Ini soal profesionalisme, meskipun di platform gratisan.
7. Proses Penerbitan Novel: Bayar atau Ribet?
Pertanyaan: Kak, kalau nerbitin buku jadi novel, bayar nggak? Ribet nggak?
Ada beberapa jalur. Kalau self-publishing, ya jelas butuh biaya cetak dan urus ISBN, dll. Ribet? Ya, kalau kamu sendiri yang kerjakan semua. Kalau ke penerbit mayor (misal Gramedia via DPS), itu gratis biayanya, tapi butuh waktu dan naskahmu harus benar-benar bagus. Persaingan ketat. Penerbit lain mungkin ada yang minta naskah cetak, berarti ada biaya cetak dan kirim. Intinya, bukan soal “bayar atau tidak”, tapi soal “mau effort seberapa besar”.
8. Email Naskah Gagal Terkirim
Pertanyaan: Penyebab email nggak mau terkirim apa ya? Mau kirim naskah ke redaksi tapi gagal.
Coba cek lagi alamat email redaksi, sudah benar atau belum. Kadang juga kotak masuk redaksi itu penuh, atau ada batasan ukuran attachment. Atau, coba pakai provider email lain. Kadang ada masalah kompatibilitas. Pastikan juga koneksi internetmu stabil. Kadang masalah sepele begitu bisa bikin pusing.
9. Mengembalikan Mood Menulis
Pertanyaan: Gimana caranya ngebalikin mood pas lagi mau nulis? Pikiranku sering terganggu masalah pribadi.
Ini yang paling sering. Mood itu fluktuatif, bre. Saya mengamati. Kadang harus paksa. Tapi kalau benar-benar buntu karena masalah pribadi, coba lakukan hal lain. Meditasi, jalan-jalan ke tempat sepi, atau sekadar ngopi di kafe sambil mengamati orang. Dengar musik yang sesuai vibe ceritamu. Itu bisa jadi “soundtrack” yang memicu ide.
Atau, baca. Tapi bukan cuma cerita fiksi. Baca jurnal penelitian, artikel berita, atau bahkan iklan. Kadang ide itu muncul dari hal-hal yang tidak terduga. Intinya, “isi tangki” inspirasimu dengan input baru. Jangan cuma berdiam diri.
10. Menghindari Plagiarisme Ide/Adegan
Pertanyaan: Aku mau menggambarkan adegan boncengan motor, tapi kok kayak ngerasa plagiat prolog ‘Mia is Mine!’ Apa aku harus ganti adegan?
Ganti. Langsung ganti. Jangan cuma ganti kosakata, itu sama saja bohong. Pembaca itu cerdas, bre. Mereka akan langsung bilang, “Loh, kok Mia is Mine!” Itu bahaya. Kamu mau ceritamu jadi bayang-bayang cerita lain selamanya?
Saya pernah punya pengalaman mirip. Bikin adegan, terus sadar kok mirip banget sama yang sudah ada. Nggak nyaman. Akhirnya ubah. Memang butuh effort lebih, harus mikir keras, bahkan sampai berkhayal di kamar mandi, wkwkwk. Tapi hasilnya, ide baru itu bisa jadi lebih ikonik, lebih “kamu”. Semakin orisinal, semakin baik.
11. Penempatan Kata “Ia” dan “Dia”
Pertanyaan: Masih bingung sama penempatan kata “ia” dan “dia”.
Gini, “ia” itu tidak bisa jadi objek setelah kata kerja atau setelah kata depan (dari, kepada, dll). Dan “ia” bisa merujuk benda mati, “dia” tidak. Untuk kasus objek, pakai “-nya”.
Contoh:
Dia memukul ia. (Salah)
Dia memukulnya. (Benar)
Meja itu kokoh, ia terbuat dari kayu jati. (Benar)
Meja itu kokoh, dia terbuat dari kayu jati. (Salah)
Ini soal tata bahasa dasar. Jangan malas buka PUEBI.
12. Melaporkan Cerita di Wattpad
Pertanyaan: Semisal kita mereport cerita, apakah ada notifikasi untuk author tsb? Atau tidak ada pemberitahuan, tapi cerita tiba-tiba hilang?
Setahu saya, tidak semudah itu melaporkan cerita orang. Kalau alasannya mengada-ada, justru akunmu yang bisa kena. Wattpad itu punya prosedur. Ada tim yang akan validasi. Jadi hati-hati. Jangan asal report. Kamu bisa cek panduan resminya di Wattpad soal ini.
13. Part Cerita Acak atau Tidak Lengkap di Wattpad
Pertanyaan: Cerita saya gada yang privat, tapi kenapa ya setiap teman saya ada yang mau baca di Wattpad langsung, partnya pasti acak atau ada yang nggak lengkap?
Pertama, cek urutan part di ceritamu. Kadang bisa teracak sendiri. Urutkan lagi, lalu klik simpan. Kedua, bisa jadi masalah jaringan temanmu. Suruh dia coba pakai jaringan yang lebih stabil atau coba buka via web/komputer. Kadang aplikasi mobile Wattpad suka buggy.
—
Bre, itu beberapa pertanyaan yang sering muncul. Semoga jawaban saya ini bisa sedikit mencerahkan. Ingat, menulis itu proses. Ada jatuh bangunnya. Jangan mudah menyerah.
Kalau kamu masih sering buntu soal struktur cerita, pengembangan ide, atau bagaimana merangkai plot yang solid, saya sudah kumpulkan semua pengalaman saya di ebook Selesaikan Naskahmu. Bukan janji muluk-muluk, tapi ini logbook yang kurapikan. Kalau butuh, ambil. Link ada di bio saya.
—