Bre, saya sering lihat. Penulis, kadang yang sudah punya nama pun, masih sering kecolongan soal tata bahasa dasar. Bukan soal gaya, tapi soal aturan main yang sudah baku. Contoh paling gampang, “di mana” dan “dimana”. Sering banget tertukar.
Ini bukan soal jadi sastrawan yang puitis, bre. Ini soal naskahmu layak dibaca apa nggak. Kalau dari awal sudah kelihatan compang-camping, gimana pembaca mau percaya sama cerita yang kamu bangun?
Jadi gini, kita liat dulu prosesnya satu-satu.
1. Di mana atau Dimana?
Yang benar itu Di mana. Dipisah, bre. Kenapa? Karena “di” di sini berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan tempat. Mirip “ke” atau “dari”.
Gampangannya begini:
- Kalau “di” itu merujuk ke tempat, dia dipisah.
- Contoh:
- “Di mana kamu sembunyikan laporan audit itu?”
- “Aku menemukannya di laci meja Pak Lurah.”
- “Dia memang sering nongkrong di sana, dekat pos ronda.”
- “Kain itu disimpan di dalam lemari.”
- Nah, kalau “di” itu berfungsi sebagai imbuhan kata kerja pasif, dia digabung.
- Contoh:
- “Laporan itu ditahan atasan.” (Bukan ‘di tahan’)
- “Dia ditegur karena terlambat.” (Bukan ‘di tegur’)
- “Anak buahnya dimarahi habis-habisan.” (Bukan ‘di marahi’)
- “Uang itu dicuri dari brankas.” (Bukan ‘di curi’)
Ingat analogi klasik ini biar nggak salah:
“Gajah di balik batu.” (Gajah berada di belakang batu. Di pisah.)
“Gajah dibalik batu.” (Gajah dibalikkan oleh batu. Di gabung.)
Kebayang, kan? Beda makna jauh cuma gara-gara spasi. Wkwkwk.
2. Partikel: -lah, -kah, -tah
Partikel-partikel ini, bre, ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Langsung nempel.
- Contoh:
- “Bacalah buku pedoman itu baik-baik!”
- “Apakah yang sebenarnya dia inginkan?”
- “Siapakah dalang di balik semua ini?”
- “Apatah gunanya meratapi nasib sial ini?”
3. Partikel: -pun
Nah, ini agak tricky. Partikel “pun” ini umumnya ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
- Contoh:
- “Apa pun alasannya, proyek ini harus selesai.”
- “Jika kita pulang tengah malam pun, bis masih ada.”
- “Jangankan dua kali, satu kali pun dia belum pernah datang.”
Tapi ada pengecualian!
Partikel “pun” ditulis serangkai kalau dia berfungsi sebagai unsur kata penghubung (konjungsi).
- Contoh:
- “Meskipun sibuk, dia tetap menyelesaikan tugasnya.”
- “Dia tetap bersemangat walaupun lelah.”
- “Adapun penyebab kemacetan itu, belum ada yang tahu pasti.”
- “Bagaimanapun, pekerjaan ini harus selesai minggu depan.”
4. Partikel: -per
Partikel “per” yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
- Contoh:
- “Mereka masuk ke ruang rapat satu per satu.”
- “Harga kopi itu Rp20.000,00 per cangkir.”
- “Kenaikan gaji berlaku per 1 Januari tahun depan.”
Penutup
Ini bukan soal gaya-gayaan. Ini soal profesionalisme. Naskah yang rapi secara tata bahasa itu menunjukkan kalau kamu serius. Pembaca juga akan lebih nyaman mencerna ceritamu kalau mereka tidak terganggu oleh kesalahan-kesalahan dasar seperti ini. Anggap saja ini investasi kecil untuk naskahmu sendiri.
Kalau masih pusing soal tata bahasa, ejaan, atau gimana caranya bikin naskahmu bersih dari kesalahan-kesalahan fatal kayak gini, mungkin kamu butuh panduan lebih detail. Logbook saya, “Swa-Sunting”, bisa bantu kamu. Itu isinya metode dan ceklis yang biasa saya pakai buat merapikan naskah, biar kamu punya sistem sendiri dan nggak perlu bayar editor mahal-mahal di awal. Cek saja kalau butuh.
—