Pernah baca novel, terus tiba-tiba ada deskripsi bau yang bikin kamu langsung teringat sesuatu? Atau malah bikin perutmu mual? Nah, itu dia kekuatan aroma dalam tulisan. Kau benar, aroma itu bisa jadi senjata ampuh untuk menarik pembaca, tapi seringnya kita lupakan.
Kenapa lupa? Karena mendeskripsikan aroma itu susah, bre. Wkwkwk. Bau itu cuma sensasi di hidung, dia enggak bisa gerak, enggak bisa ngomong. Beda sama visual atau suara yang gampang dicari kata kerjanya. Makanya, kebanyakan penulis cuma nyebut “wangi” atau “bau”. Padahal, itu kayak cuma bilang “cantik” atau “jelek” doang. Enggak nendang.
Spesifik Itu Penting, Bre
Coba bandingkan: “Baunya wangi” sama “Baunya kayak popcorn yang baru mateng”. Mana yang lebih bikin kamu ngebayangin? Yang kedua, kan? Atau “Baunya anyir” daripada “Baunya enggak enak”. Lebih spesifik, lebih kena.
Ini bukan cuma soal bikin kalimat jadi panjang, tapi soal memancing emosi pembaca. Emosi itu yang bikin mereka betah sama ceritamu, bikin mereka ngerasa “ada” di dalamnya. Ini penting buat mereka yang suka cerita fiksi, apalagi novel yang butuh setting detail.
Para ilmuwan aja sampai bikin daftar 10 bau dasar: wewangian, resin, buah non-jeruk, kimia, mint, manis, berondong, lemon, apak, dan bangkai. Ini bisa jadi panduan awal kita, daripada cuma muter-muter di “busuk, pesing, apak, harum, segar, sengit” doang.
Bukan Sekadar Kata Sifat
Mendeskripsikan aroma itu enggak cuma pakai kata sifat. Kita bisa pinjam dari indra lain.
- Kata Benda: Apa sumber baunya? “Bau kulit”, “bau hujan”, “bau asap rokok kretek”. Lebih spesifik lagi: “Bau asap dari kayu bakar yang baru disiram air hujan” itu beda banget sama “bau asap knalpot bajaj yang lagi ngetem”.
- Kata Kerja: Gimana bau itu “bekerja”? Apakah dia “menyelinap”, “menusuk”, “menyelimuti”, “menarik perhatian”, atau “mengganggu kesadaran”?
- Pinjam dari Indra Lain:
- * Penglihatan: Apakah baunya “gelap”, “terang”, “kabur”?
- * Suara: Apakah baunya “nyaring”, “tenang”, “sumbang”?
- * Sentuhan: Apakah baunya “tajam”, “lembut”, “kasar”?
- * Rasa: Ini yang paling dekat. Apakah baunya “manis”, “asam”, “pahit”, “asin”? Atau “cokelat”, “buah”, “ragi”?
Contoh: Daripada “bau keringat”, bisa jadi “bau kecut kaos kaki yang lupa dicuci seminggu”, atau “bau asem tomat busuk yang kelindes ban motor”. Lebih dramatis, kan?
Atau, kalau mau lebih gila lagi, “Aku enggak kuat di dekatnya. Baunya kayak cicak yang ditinggal teman-temannya karena nyebelin, terus kejepit pintu.” Wkwkwkwk. Ini memang ekstrem, tapi intinya: pakai imajinasi.
Kenapa Mau Mendeskripsikan Bau?
Sebelum kamu pusing-pusing mikirin kata, tanya dulu: kenapa kamu mau mendeskripsikan bau ini?
- Mau bikin pembaca mengenali bau yang belum pernah mereka cium?
- Mau membangkitkan emosi atau ingatan tertentu?
- Atau cuma mau melengkapi setting aja?
Tujuannya beda, deskripsinya juga beda. Kalau mau bikin pembaca sedih, mungkin bau tanah basah setelah hujan bisa dipakai. Kalau mau bikin marah, mungkin bau amis darah atau bau apek ruangan pengap.
Aroma itu sering terkait sama ingatan. Ingatan itu yang bikin pembaca “nyambung” sama karaktermu. Misalnya, bau masakan ibu di rumah, atau bau parfum mantan. Itu bisa jadi pemicu emosi yang kuat.
Jadi gini, bre. Mendeskripsikan aroma itu bukan cuma soal “apa baunya”, tapi juga “gimana bau itu bikin karakter atau pembaca ngerasa”. Ini butuh observasi dan latihan. Ciumin aja semua hal di sekitarmu, terus coba deskripsikan. Jangan males.
Kalau mau tulisanmu lebih kaya, lebih “hidup”, dan bikin pembaca betah, jangan lupakan kekuatan aroma ini. Ini investasi kecil yang dampaknya besar.
—
Mau tahu cara merapikan tulisanmu agar deskripsi-deskripsi ini tersampaikan dengan efektif tanpa bikin pembaca bingung?
Cek ebook Swa-Sunting dan “Selesaikan Naskahmu”. Di sana, kita bahas gimana merapikan struktur kalimat dan ide biar tulisanmu makin tajam dan memikat. Bukan cuma soal aroma, tapi keseluruhan naskahmu.
—