Bre, kita semua pernah di titik ini. Nulis, ngedit, terus mata nyangkut di satu kata yang muncul berkali-kali: “tiba-tiba.” Kayak virus, menjalar. Efeknya? Tulisanmu jadi datar, tanpa kejutan, kayak rapat koordinasi yang cuma muter-muter.
“Tiba-tiba” itu semacam filter word. Bukan haram dipakai, tapi kalau kebanyakan, tulisanmu kayak kena malaria. Lemas. Padahal, kita nulis itu biar pembaca kena hajar emosi, bukan malah ketiduran.
Gini, kita liat dulu prosesnya satu-satu. Gimana caranya bikin pembaca kaget, tapi bukan karena kita bilang “tiba-tiba”?
1. Bangun Ketegangan, Bukan Kejutan Instan
Kata “tiba-tiba” itu definisi KBBI-nya: “sekonyong-konyong; dengan mendadak.” Oke, itu benar. Tapi dalam tulisan, kejutan mendadak tanpa fondasi itu cuma bikin pembaca bingung, bukan tegang. Kayak dikasih tahu hasil audit tanpa dikasih tahu kenapa ada audit.
Coba kita bangun ketegangan perlahan. Biar pembaca ikut mikir, ikut deg-degan, sampai akhirnya mereka sendiri yang merasakan “kejutan” itu.
Contoh:
Aku merangkak di lorong itu. Gelap. Udara lembap, bau karat dan anyir. Tangan kananku meraba dinding, mencari pegangan. Kaki kiri tersandung sesuatu, benda keras. Aku menunduk. Bayangan samar. Bentuknya tak jelas, tapi aku tahu itu bukan bagian dari struktur lorong. Bukan pipa, bukan batu. Jantungku berdetak. Lebih cepat. Aku menajamkan pandangan. Ada kilau. Logam. Lalu, sebuah suara. Desisan halus, dari balik bayangan itu. Aku tahu. Aku sudah terlambat.
Bandingkan dengan: “Aku merangkak di lorong itu. Tiba-tiba ada suara desisan.” Beda, kan? Yang pertama bikin pembaca curiga duluan, yang kedua cuma bilang ada suara.
2. Ganti dengan Kata Lain yang Lebih Spesifik
Kalau memang harus ada elemen “mendadak” itu, coba cari padanan kata yang lebih kuat dan spesifik. Bahasa Indonesia itu kaya, bre. Jangan cuma stuck di “tiba-tiba” doang.
Contoh:
Bos memanggilku ke ruangannya. Aku tahu ini bukan kabar baik. Wajahnya keras, mirip patung pahatan di kantor walikota. Meja kerjanya bersih, cuma ada satu amplop cokelat di tengah. Aku duduk. Dia tak bicara, cuma menatapku. Tangannya bergerak pelan, membuka amplop itu. Mataku tak berkedip. Selembar kertas putih ditarik keluar. Nama di sana. Namaku. Dan kata “Pemberhentian”.
“Ini suratmu,” katanya.
Aku tersentak. Aku sudah menduga, tapi tidak secepat ini.
Daripada: “Tiba-tiba aku tersentak.” Kata “tersentak” itu sendiri sudah menunjukkan reaksi yang mendadak. Atau “tidak secepat ini” juga memberi nuansa kejutan yang lebih personal. Lebih hemat kata, lebih padat rasa.
3. Jeda dengan Paragraf Baru: Bom Waktu yang Meledak
Ini trik yang sering kupakai. Kayak menjatuhkan bom. Satu paragraf untuk membangun suasana, lalu paragraf berikutnya, satu kalimat pendek, menghantam. Itu lebih efektif daripada “tiba-tiba”.
Contoh (dari semesta Protokol Sagara):
Pak Suryo memandangi laporan di tangannya. Kerutan di dahinya semakin dalam, seperti peta rumit masalah yang tak kunjung usai. Ruangan hening, hanya suara AC yang mendengung pelan. Aku menunggu. Setiap detik terasa memanjang, meregang.
“Proyek Sagara dibatalkan.”
Kalimat itu menggantung di udara, memecah hening. Dingin. Tegas. Kayak palu godam menghantam kepala. Rasanya semua fondasi yang sudah kami bangun, runtuh. Bukan “tiba-tiba dibatalkan,” tapi pembatalan itu sendiri yang jadi kejutan, diperkuat oleh jeda dan penekanan.
Atau contoh lain yang lebih dramatis:
Rania berlari di koridor rumah sakit, napasnya tersengal. Setiap pintu yang dilewati, setiap wajah perawat yang berpapasan, terasa mengintimidasi. Ruangan ICU di ujung. Dia berhenti. Pintu itu tertutup rapat. Di kaca, ada bayangan.
Sosok itu tak bergerak.
Diam. Kaku.
“Dia sudah tiada.”
Jeda itu, bre. Itu yang bikin pembaca ikut merasakan pukulan, bukan sekadar diberitahu ada pukulan.
Jangan Malas, Bre
Mengganti “tiba-tiba” memang butuh usaha lebih. Tapi hasilnya? Tulisanmu jadi lebih kuat, lebih nyata, dan lebih menghajar pembaca. Ingat, kita nulis itu bukan cuma buat selesai, tapi buat meninggalkan bekas.
Kalau tulisanmu masih sering “tiba-tiba” loyo karena kata-kata yang tidak efektif, mungkin ini saatnya bedah ulang. Ebook Swa-Sunting bisa bantu kamu mengidentifikasi dan membenahi detail-detail kecil yang justru punya dampak besar. Jangan sampai tulisanmu mati mendadak sebelum sempat hidup.
—