Musik, Bukan Sekadar Pengisi Sunyi Saat Nulis

Tips Menulis Syafree

Nulis itu kadang kayak nyetir di jalan tol yang kosong. Lurus terus, cepat, tapi lama-lama bisa bikin mata berat. Otak butuh doping. Selain kafein dosis tinggi, buatku, musik bisa jadi pemicu yang lumayan efektif. Bukan mantra, tapi alat.

Aku mengamati, kadang pas lagi mentok ide, atau cuma sekadar males ngangkat jari dari keyboard, dengerin musik yang pas bisa bantu sedikit. Bukan cuma buat bikin mood, tapi kadang lirik atau irama tertentu bisa jadi jembatan ke kosakata yang lagi dicari, atau malah memicu visualisasi adegan.

Gimana Cara Nyari “Soundtrack” Buat Naskahmu?

Ini bukan ilmu pasti, bre. Tiap orang beda. Tapi ada beberapa cara yang lumayan sering aku pakai:

  1. Dengarkan, Rasakan, Cocokkan:
  2. Anggap aja ceritamu itu film. Setiap adegan, setiap karakter, pasti punya “suara”nya sendiri. Kalau karaktermu lagi dikejar deadline di kantor yang pengap, musiknya pasti beda sama karakter yang lagi lari dari kejaran utang di gang sempit. Musik itu harus mengalir, jadi semacam latar belakang yang nggak kamu sadari, tapi menguatkan apa yang terjadi.
  1. Google Itu Teman (Murah):
  2. Ini cara paling gampang, wkwkwk. Otak manusia kadang butuh pancingan. Ketik aja satu kalimat yang menggambarkan inti ceritamu, atau adegan spesifik, lalu tambahkan kata “lagu”.

Contoh:
“Merasa terjebak di pekerjaan monoton lagu”
“Pengkhianatan sahabat lagu”
* “Mencari jati diri di kota besar lagu”

Boom. Kamu bakal dapat ribuan rekomendasi. Saring aja yang paling pas. Jangan cuma asal denger, tapi coba bayangkan, cocok nggak dengan rasa yang ingin kamu bangun di tulisanmu.

  1. Lirik, Instrumen, atau Getaran?
  2. Aku sendiri kalau nemu lagu yang pas, biasanya karena liriknya kena. Atau instrumennya yang punya “rasa” tertentu. Atau, entah kenapa, lagu itu cuma bikin aku merasa, “ini lagu bener-bener pas buat adegan ini.” Kayak ada getaran yang nyambung.

Ambil contoh, karakter macam Walter White di Breaking Bad. Pas dia lagi meracik sesuatu di labnya yang gelap, bukan lagu pop ceria yang masuk. Mungkin instrumental yang tegang, yang bikin jantung berdebar, atau blues yang berat, menggambarkan jiwanya yang makin karatan.

Atau, kalau lagi nulis adegan negosiasi ala Michael Corleone di The Godfather, mungkin butuh musik klasik Italia yang megah tapi menyimpan ancaman di baliknya. Yang bikin suasana tegang, tapi tetap elegan.

Bahkan untuk adegan paling remeh di birokrasi, misalnya karaktermu lagi menatap tumpukan berkas yang tak kunjung selesai, kadang cuma butuh ambient noise atau lo-fi beat yang monoton. Biar pas dengan rasa hampa yang menusuk.

Musik ini, memang bisa jadi pemicu visualisasi yang kuat. Kadang, cuma satu nada bisa membuka pintu ke detail yang selama ini nggak terpikirkan. Dinginnya angin, derasnya air sungai, atau kilau cincin berlian yang mewah – semua bisa jadi lebih hidup.

Intinya, musik ini alat, bre. Bukan mantra. Pakai secukupnya, jangan sampai malah bikin kamu joget-joget sendiri di depan laptop dan lupa nulis. Hahah.

Kalau sudah dapat inspirasi dari lagu, tapi masih bingung gimana merangkai semua jadi cerita yang utuh, atau naskahmu masih mandek di tengah jalan karena plot bolong di sana-sini, mungkin kamu butuh panduan lebih praktis. Cek saja Selesaikan Naskahmu. Itu logbook saya merapikan ide dan struktur cerita. Kalau butuh, ambil.

—