Kesalahan Dasar Penulis Pemula: Biar Nggak Sia-sia Nulis Sampai Begadang

Tips Menulis Syafree

Bre, kalau kamu nulis sampai mata panda, kopi pahit numpuk di meja, tapi pembaca masih segitu-gitu aja, mungkin ada yang salah. Bukan, bukan karena kamu kurang “passion” atau “panggilan jiwa”. Itu omong kosong. Ini soal teknik dan mentalitas.

Aku mengamati, banyak penulis pemula jatuh ke lubang yang sama. Ini bukan masalah bakat, ini masalah efisiensi. Dulu aku juga begitu, nggak beda jauh. Tapi kan namanya juga belajar, wkwkwk.

Ini delapan dosa besar yang sering bikin tulisanmu macet:

1. Njiplak Ide Orang Lain
Kau benar. Ini paling dasar. Kalau idemu hasil daur ulang dari cerita orang, terus apa bedanya sama fotocopy? Pembaca itu butuh koneksi emosional. Kalau kamu sendiri nggak punya ikatan sama ide itu karena bukan lahir dari ‘perutmu’ sendiri, gimana pembaca bisa hanyut? Jangan harap dapat pujian, apalagi cuan. Paling banter, dicap plagiat seumur hidup. Mau?

2. Nulis Seenak Jidat (Ejaan & Tata Bahasa Amburadul)
Ini penyakit kronis. Nulis paragraf panjang tanpa koma, tanda baca seenaknya, atau ejaan yang bikin mata perih kayak kena omongan tetangga. Kamu kira ini buku diary pribadi? Begitu kamu unggah ke platform, itu berarti ada potensi pembaca. Hormati mereka. Kalau tulisanmu acak-acakan, mereka kabur. Itu saja. Belajar lagi tata bahasa dasar. SMP punya buku LKS Bahasa Indonesia kan? Buka lagi.

3. Suara Penulis Masih Dominan
Ini ciri khas penulis yang belum bisa ‘keluar dari dirinya’. Karakter yang kamu ciptakan, kok, suaranya sama semua? Kok, kayak kamu yang ngomong terus, bukan si karakter? Contoh, kalau kamu nulis karakter tough guy ala Walter White, ya biarkan dia bicara dengan gaya Walter White, bukan dengan gaya kamu yang lagi galau mikirin cicilan. Ini bikin cerita terasa palsu, pembaca jadi sadar ini cuma fiksi, dan koneksi langsung putus. Efeknya? Mereka nggak balik lagi.

4. Males Riset
Mau nulis tentang setting di New York, tapi jamnya sama kayak di Jakarta. Atau cerita tentang mafia di Italia, tapi bahasanya kaku kayak terjemahan Google Translate. Ini fatal. Pembaca itu cerdas. Mereka tahu kalau kamu ngaco. Kalau kamu nulis daun pete gugur di Central Park, yang pernah ke sana pasti ngakak. Riset itu fondasi. Cuaca, adat, flora, fauna, sampai detail kecil. Kalau ceritamu nggak plausibel, pembaca sebel, lalu pergi.

5. Nggak Niat Nulis (Nggak Konsisten & Nggak Jelas)
“Tunggu minggu depan ya~” terus menghilang setahun. Atau, “Masih nggak yakin mau dibawa ke mana ceritaku heheee.” Bre, ini bukan proyek iseng. Kalau kamu nggak niat, pembaca juga nggak akan niat nungguin. Naskah yang nggak ada plotnya, nggak ada tujuan, karakter nggak berkembang, bab acak, nama tokoh berubah-ubah… Itu namanya ngajak berantem. Kalau cuma mau seru-seruan, tulis di buku catatan saja. Jangan buang waktu orang lain.

6. Nggak Ada Plot!
Ini masalah fundamental. Lupakan dulu cara promosi, cara bikin misteri, atau cara dapat jutaan pembaca. Yang kamu butuhkan itu PLOT. Karaktermu mau ke mana? Apa tujuannya? Rintangannya apa saja? Bagaimana dia mencapai itu? Itu plot. Kalau cuma makan, tidur, sekolah, terus adegan baper sama cewek tanpa arah, ya itu cuma slice of life tanpa slice yang penting. Pembaca butuh alur, bukan sekadar adegan.

7. Nggak Promosi
Kamu sudah nulis cerita Alien Jatuh Cinta sama Putri Duyung yang keren, tapi cuma tersimpan di folder laptop? Atau cuma kamu share di grup WhatsApp keluarga yang isinya pakde-pakde nggak ngerti Wattpad? Bagaimana 8 miliar manusia bisa tahu? Bagikan di Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, YouTube, semua. Kalau nggak punya media sosial, ya sudah, nulis di buku diary saja. Jangan harap cuan.

8. Menjelekkan Cerita Sendiri
Ceritamu itu kayak anakmu. Nggak ada orang tua yang bilang anaknya jelek di depan umum, kan? Tapi juga jangan overproud sampai bilang, “Ceritaku terbaik sepanjang sejarah!” Itu bikin eneg.
Kalau ditanya teman, “Kamu nulis di Wattpad ya? Tentang apa?” Jawab saja inti ceritamu. Misal, “Iya, tentang seorang arsitek muda yang terjebak di pusaran korupsi birokrasi, dia harus memilih antara integritas atau menyelamatkan keluarganya.”
Kalau dia nanya, “Emang ada yang baca?” Jawab santai, “Baru lima bab, tapi syukurlah pembacanya terus bertambah.” Lalu kasih link-nya. Sesimpel itu. Daripada kamu promosi, “Mampir ke ceritaku ya, pasti keren, bikin baper, bikin nangis, bla bla bla!!!” Itu kayak sales panci. Kamu bisa lebih baik dari itu. Berikan blurb singkat, lalu link. Selesai.

Jadi, bre, intinya begini. Menulis itu bukan cuma soal ide, tapi juga eksekusi dan strategi. Hindari delapan kesalahan ini, dan kamu sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan penulis pemula.

Kalau kamu merasa butuh bantuan untuk merapikan struktur tulisan, memahami plot yang kuat, atau bahkan bagaimana cara menata naskahmu biar siap terbit, aku punya logbook yang kurapikan. Isinya langkah-langkah praktis, bukan teori kosong. Bisa kamu cek di link ebook Selesaikan Naskahmu/Swa-Sunting/Swa-Tata/Nulis Terbit Cuan. Kalau butuh, ambil.

—