Kamu tahu nggak, bre, apa rahasia penulis yang karyanya bisa nempel di kepala orang? Bukan soal plot yang muter-muter kayak benang kusut, atau karakter yang dramatisnya minta ampun. Bukan itu. Rahasianya cuma satu: cara dia cerita.
Percuma punya ide gila kalau nggak bisa bikin pembaca ngerasain apa-apa. Ibaratnya, punya resep masakan bintang lima, tapi pas dimasak rasanya hambar kayak nasi aking. Ya mati di tengah jalan itu cerita.
Pernah ngalamin? Mau nulis, tapi bingung mau mulai dari mana. Ide ada, tapi kok rasanya nggak greget pas dijadiin kata-kata. Nah, kalau iya, berarti kamu butuh ini: Show, Don’t Tell.
Aku mengamati, banyak penulis pemula (dan bahkan yang udah lumayan jalan) masih sering kejebak di “Telling”. Mereka bilang, “Si Andi marah.” Padahal, harusnya kita tunjukin kemarahannya.
Contohnya gini, bre. Perhatiin dua kalimat ini:
- Andi marah.
- Andi mengepalkan tangan di samping paha. Rahangnya mengeras. Matanya menyipit, menatap meja kerjanya yang berantakan, seolah siap menelan tumpukan berkas tagihan yang nggak kunjung kelar.
Mana yang bikin kamu ngerasa Andi beneran marah? Yang kedua, kan? Kamu bisa lihat kemarahannya, rasakan tensinya. Itu namanya “Show”. Kita pakai panca indra kita, ditambah sedikit bumbu kata sifat.
Kata Sifat Itu Alat, Bre.
Kata sifat itu bukan cuma buat manis-manisin kalimat. Bukan hiasan. Dia itu alat. Alat buat bikin deskripsi jadi lebih spesifik, lebih nyata, lebih bisa dirasakan.
Misalnya, kalau kamu nulis: “Meja itu kotor.” Ya udah, kotor aja. Tapi kalau kamu nulis: “Meja itu lengket, berminyak, dengan remah keripik singkong kering menempel di sela-sela keyboard.” Nah, beda kan? Kamu langsung bisa bayangin, bahkan mungkin jijik. Wkwkwk.
Kata sifat itu ada banyak jenisnya, tapi nggak perlu pusing mikirin kategorinya kayak anak kuliahan ngerjain skripsi. Intinya, pakai dia buat ngasih detail:
- Keadaan: “Gedung tua itu tampak usang, catnya mengelupas, dindingnya berlumut.”
- Warna/Bentuk: “Kemeja biru pudar itu tampak kekecilan di tubuh kurus Pak RT.”
- Perasaan: “Udara dingin pagi itu membuatku merasa sepi.” (Perasaan karakternya, bukan perasaanku sebagai penulis).
Gimana Cara Menggunakannya?
Fokus pada apa yang karaktermu lihat, dengar, rasakan, cium, dan kecap. Jadikan dia sensor utama di cerita. Jangan cuma bilang “suasana seram”, tapi tunjukkan: “Angin dingin merambat di punggung, menyisakan bulu kuduk berdiri. Suara derit pintu di lantai atas, meski tertutup rapat, terdengar jelas di telingaku yang waspada.”
Lihat, bre? Kata sifat itu bantu kita nge-zoom in detail. Dari yang umum jadi spesifik. Dari yang abstrak jadi konkret.
Ini bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi soal efektivitas. Soal bikin pembaca nggak cuma baca, tapi juga mengalami. Kalau pembaca udah bisa mengalami ceritamu, berarti kamu udah berhasil.
Jadi, mulai sekarang, coba deh. Setiap kali kamu menulis sebuah kalimat yang “telling” (misalnya, “Dia sedih”), coba ubah jadi “showing” (misalnya, “Bahu dia melorot, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan isak”). Latih terus, itu kuncinya.
Ini bukan ilmu roket, bre. Cuma soal perhatian pada detail. Dan kemauan untuk nggak malas mikir. Wkwkwk.
Semoga membantu biar tulisanmu nggak cuma numpang lewat di otak pembaca.
—
Butuh bantuan buat poles kalimatmu biar makin tajam dan nggak hambar? Ebook Swa-Sunting bisa jadi panduanmu. Isinya praktis, nggak pake teori ribet, langsung ke inti gimana bikin tulisanmu berbobot dan enak dibaca. Ambil kalau butuh. Link ada di bio.
—