Birokrat punya stempel khas. Kopi pahit punya rasa khas. Penulis juga. Bukan cuma soal cerita, tapi bagaimana cara kita bercerita. Ada yang langsung sikat, ada yang muter-muter dulu. Itu yang namanya gaya menulis.
Gaya menulis itu seperti sidik jari. Unik. Gabungan dari ‘suara’ dan ‘nada’ yang kamu pakai. Bisa berubah-ubah, tergantung kamu nulis apa, buat siapa, dan tujuannya apa. Jurnalis berita jelas beda gayanya sama penulis fiksi. Jangan disamakan.
Dua Elemen Kunci dalam Tiap Gaya Menulis:
- Suara: Ini kepribadianmu di atas kertas. Sudut pandangmu. Bagaimana kamu melihat dunia, lalu menuliskannya.
- Nada: Ini sikap yang kamu sampaikan. Apakah sinis, datar, berapi-api, atau pasrah. Nada ini terbentuk dari pilihan kata, struktur kalimat, sampai tata bahasamu.
Empat Jenis Gaya Menulis yang Perlu Kamu Tahu:
Meski tiap penulis punya suara, ada empat kategori besar yang biasanya jadi pijakan:
- Ekspositori: Tujuannya memberi informasi atau menjelaskan. Contohnya laporan teknis, memo dinas (wkwkwk), atau artikel berita. Langsung ke inti.
- Deskriptif: Melukiskan sesuatu pakai kata-kata. Pembaca seolah bisa melihat, mencium, atau merasakan apa yang kamu tulis. Sering dipakai di puisi, atau deskripsi suasana dalam novel.
- Naratif: Ini yang bercerita. Ada tokoh, latar, dan alur. Paling sering di fiksi. Contoh novel yang kuat di gaya naratifnya? Coba baca The Godfather atau Joker. Lihat bagaimana karakternya dibangun, bagaimana alurnya berjalan tanpa harus banyak omong.
- Persuasif: Tujuannya memengaruhi pembaca agar setuju dengan pendapatmu. Kampanye iklan, pidato politik, atau surat lamaran kerja.
Delapan Cara Mengembangkan Ciri Khas Menulismu:
Mau nulis novel atau artikel blog, kamu butuh gaya yang jadi “kamu banget.” Ini panduannya, bre:
- Jadi Diri Sendiri: Jangan jadi orang lain. Capek. Nulis itu sudah berat, jangan dibikin makin berat dengan pura-pura. Fokus pada apa yang mau kamu sampaikan. Pakai bahasa yang nyaman buatmu, yang jujur. Klise itu sampah. Buang.
- Gunakan Pengalaman Hidupmu: Semua trauma, pahitnya hidup, semua kejadian yang bikin kamu meringis di sudut kamar sambil makan mi instan—itu semua modal. Jadikan bahan bakar. Sudut pandangmu yang unik itu mahal.
- Hadir dalam Tulisanmu: Jangan ngawang-ngawang. Libatkan pembaca. Tulis dengan nada yang otentik, bukan hasil tempelan. Sampaikan detail cerita secara efisien. Jangan kebanyakan filosofi.
- Punya Suara yang Adaptif: Memang harus punya suara yang konsisten, tapi kadang harus jadi bunglon. Tergantung konteks. Nulis fiksi dengan sudut pandang orang pertama akan beda sama orang ketiga. Dialog karakter juga. Michael Corleone ngomongnya beda sama Vito Corleone, kan?
- Keluar dari Zona Nyaman: Jangan takut bereksperimen. Coba gaya baru. Tulis sesuatu yang biasanya kamu hindari. Jelek? Ya revisi. Itu temen kita.
- Baca Penulis Lain: Baca. Bukan buat nyontek, tapi buat tahu standar pasar. Buat tahu bagaimana penulis lain membangun suasana, karakter, atau alur. Amati bagaimana mereka merangkai kata dan kalimat.
- Sering Menulis: Disiplin itu harga mati. Mau bagus? Nulis terus. Tiap hari. Walau cuma sepuluh menit. Walau cuma coret-coret di buku catatan. Saya sendiri sering nulis lewat tengah malam, ditemani kopi pahit dan sisa-sisa tenaga. Ini bukan ritual sakral, ini keharusan.
- Asah Kerajinanmu: Setelah kamu merasa punya “rasa” yang kuat, baru poles teknisnya. Tata bahasa, struktur kalimat, pilihan kata yang lebih tajam. Itu semua bisa diasah.
Intinya, ciri khas itu bukan datang tiba-tiba. Dia tumbuh dari kebiasaan, dari keringat, dan dari keberanianmu jadi diri sendiri.
—
Kalau sudah punya “rasa” tapi masih bingung soal teknis, bagaimana merapikan kalimat, struktur, dan tata bahasa agar tulisanmu makin tajam, mungkin kamu butuh panduan “Swa-Sunting”. Ini bukan janji manis, cuma logbook dari pengalaman saya yang salah jalan. Ambil kalau butuh.
—