Sering dengar keluhan penulis pemula? “Ide ceritaku gila, bre. Premisnya segar. Tapi kok sepi pembaca?”
Wkwkwk. Klasik.
Sebagai orang yang bertahun-tahun mengamati naskah—baik fiksi birokrasi maupun romansa—masalahnya hampir selalu sama. Bukan di kepalamu. Masalahnya ada di jarak baca. Pembaca tidak bisa masuk ke dalam kepala karaktermu karena kamu memasang dinding tebal di antara mereka.
Mari kita bedah cara merobohkan dinding itu. Sederhana, taktis, tanpa teori bahasa yang bikin ngantuk.
—
#### 1. Karaktermu Terlalu “Mulus”
Mari jujur. Kita tidak suka orang yang terlalu sempurna di dunia nyata. Di fiksi pun sama.
Kalau tokoh utamamu tampan, kaya raya, baik hati, penyayang binatang, dan tidak punya cela, dia bukan manusia. Dia malaikat salah alamat. Pembaca tidak akan peduli saat dia menghadapi masalah karena mereka tahu dia punya “plot armor” setebal kamus bahasa.
Buat dia cacat. Berikan dia ketakutan yang konyol, atau keputusan egois yang nanti dia sesali. Manusia di dunia nyata bergerak karena kompromi dan kesalahan. Biarkan karaktermu makan sambil menangis karena terpaksa menikmati masakan musuhnya. Biarkan dia gagal.
Saat pembaca melihat cacat itu, jarak langsung terkikis. Mereka merasa melihat cermin, bukan pajangan etalase.
—
#### 2. Dinding Tak Kasatmata Bernama Filter Words
Ini dosa paling sering di platform digital. Banyak penulis mengira POV 1 (sudut pandang orang pertama) otomatis membuat pembaca menjadi si tokoh. Salah besar kalau kamu masih memelihara filter words.
Filter words adalah kata kerja yang bertindak sebagai perantara indra. Kata-kata seperti: melihat, mendengar, merasa, berpikir, menyadari.
Perhatikan bedanya:
> Versi Amatir (Penuh Filter Words):
> Aku berjalan ke ruang tengah. Aku melihat Rania sedang menangis di sudut kursi. Aku merasa hatiku sakit mendengarnya terisak.
> Versi Rapi (Tanpa Filter Words):
> Aku berjalan ke ruang tengah. Rania terisak di sudut kursi. Hatiku ngilu.
Lihat? Pada versi pertama, pembaca ditarik mundur. Mereka dipaksa mengamati “Aku” yang sedang mengamati Rania. Ada jarak. Pada versi kedua, pembaca langsung dihadapkan pada Rania yang menangis dan rasa ngilu itu sendiri.
Hapus kata-kata indra yang tidak perlu. Biarkan pembaca langsung menyentuh realitas ceritamu.
—
#### 3. Kekacauan Konjungsi Pertentangan: “Namun” vs “Tetapi”
Gaya bahasa Gen-Z di platform menulis sering kali kacau. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena sistem persekolahan kita mengajarkan bahasa Indonesia seperti rumus hafalan mati yang membosankan.
Salah satu yang paling sering berantakan adalah penggunaan konjungsi pertentangan: namun, tetapi, dan tapi.
Ini aturan praktisnya. Pegang ini baik-baik biar naskahmu terlihat ditulis oleh orang dewasa:
- Tetapi: Konjungsi intra-kalimat. Tempatnya di tengah kalimat, dan wajib didahului tanda koma.
- Salah: Billy ingin pergi namun di luar hujan.
- Benar: Billy ingin pergi, tetapi di luar hujan.
- Namun: Konjungsi antar-kalimat. Tempatnya di awal kalimat baru, dan wajib diikuti tanda koma.
- Salah: Salsa tidak bisa menulis cepat. Tapi kakaknya bisa.
- Benar: Salsa tidak bisa menulis cepat. Namun, kakaknya bisa.
- Tapi: Ini bentuk tidak baku dari tetapi. Boleh dipakai untuk dialog santai antartokoh sezaman, tapi kurangi di narasi formal kalau kamu tidak mau naskahmu dicoret-coret editor.
Menulis dengan tata kalimat yang rapi (SPOK jelas, konjungsi tepat) itu bukan sok peninggalan pujangga lama. Ini soal kelas. Naskah yang rapi menunjukkan penulisnya menghargai waktu pembaca.
—
#### Langkah Berikutnya
Menulis fiksi yang memikat itu kerja arsitektural. Kamu merapikan fondasi kalimat, menyusun struktur, baru membangun emosi.
Kalau naskahmu masih berantakan dengan filter words dan tanda baca yang acak-acakan, jangan harap editor penerbit atau kurator platform melirik naskahmu.
Iya, saya dulu juga pernah menulis berantakan sampai sakit kepala sendiri saat menyunting. Makanya, catatan sunting dan logbook kepenulisan saya selama bertahun-tahun itu saya rapikan jadi satu panduan praktis.
Saya beri judul “Swa-Sunting”.
Tidak ada klaim bombastis naskahmu bakal langsung viral setelah baca ini. Tapi minimal, kamu tahu cara membuat kalimatmu tidak lagi terasa amatir. Kalau butuh panduannya, silakan ambil di Lynkid saya. Kalau belum butuh, simpan dulu tulisan ini wkwkwk.
Sampai jumpa di catatan berikutnya, bre.
—