Kapan Harus “Tell, Don’t Show”? Pragmatisme Penulis Realistis

Tips Menulis Syafree

Semua orang teriak “Show, Don’t Tell!” Seolah itu mantra suci yang bisa bikin naskah langsung jadi bestseller. Aku mengamati. Memang benar, “Show, Don’t Tell” itu teknik superior. Dia bikin pembaca merasakan, bukan cuma tahu. Dia bikin cerita hidup.

Tapi, bre, hidup ini bukan cuma soal idealisme. Menulis itu kerja. Dan kadang, kerja itu butuh efisiensi. Ada kalanya, “Tell, Don’t Show” itu bukan tanda penulis malas, tapi tanda penulis pragmatis. Penulis yang tahu kapan harus menekan pedal gas, dan kapan harus menginjak rem supaya cerita tidak bloating.

Jadi, kapan kita harus pakai “Tell, Don’t Show” ini?

1. Transisi Waktu dan Tempat yang Nggak Penting

Ingat nggak, pas karaktermu lagi di kantor, terus pulang, mandi, makan, tidur? Apa kamu akan mendeskripsikan dia mencopot dasi, air hangat membasahi tubuhnya, aroma sabun lavender, suapan nasi goreng yang mengepul, sampai dengkuran halus di atas kasur?

Buat apa?

Kalau detail itu nggak memajukan plot, nggak mengungkap karakter, atau nggak membangun suasana penting, itu cuma buang-buang kata. Pembaca nggak peduli. Mereka cuma butuh tahu bahwa karaktermu sudah sampai di titik selanjutnya.

Contoh:
Budi pulang ke rumah. Besok paginya, dia sudah ada di meja rapat dengan mata sembab.

Selesai. Nggak perlu satu bab cuma buat cerita Budi sikat gigi. Itu cuma filler, bre.

2. Meletakkan Plot Twist atau “Bom” yang Mengejutkan

Plot twist itu harusnya bikin pembaca teriak, “kok nggak kepikiran?!” Bukan, “Oh, pantesan, dari awal udah dikasih clue sih.”

Kalau kamu terlalu banyak “Show” untuk plot twist, pembaca bakal mencium bau amis dari jauh. Mereka akan mulai merangkai petunjuk, dan kejutan itu hilang. Plot twist yang nampol itu yang datang tiba-tiba, menusuk langsung.

Contoh:
Walter White di Breaking Bad. Setelah sekian lama kita lihat dia jadi pecundang yang berjuang, lalu tiba-tiba di sebuah percakapan, dia cuma bilang, “I am the one who knocks.” Satu kalimat. Dingin. Menusuk. Langsung mengubah persepsi kita tentang dia. Itu “Tell” yang efektif.

Atau seperti saat Michael Corleone di The Godfather akhirnya berhadapan dengan Fredo. Tidak ada narasi panjang lebar tentang pengkhianatan Fredo. Cukup, “I know it was you, Fredo. You broke my heart.” Langsung ke intinya.

3. Deskripsi Karakter Minor (Figuran)

Karakter figuran itu seperti properti. Dia ada untuk menjalankan fungsi tertentu, lalu hilang. Satpam, pelayan kafe, suster, atau staf administrasi yang cuma numpang lewat. Apa kamu perlu mendeskripsikan masa lalunya, warna matanya, atau merek jam tangannya?

Nggak perlu.

Cukup sebut, “Petugas keamanan berkumis tebal membuka gerbang,” atau “Pelayan kafe berambut pirang mencatat pesanan.” Itu sudah cukup. Kecuali si satpam itu nanti jadi dalang utama, ya beda cerita. Tapi kalau cuma buka gerbang, ya sudah.

4. Deskripsi Tempat yang Nggak Punya Arti

Karaktermu pergi ke toilet di sebuah restoran mewah. Apakah kamu akan mendeskripsikan motif keramiknya, merek sabunnya, atau seberapa bersih klosetnya?

Kalau adegan di toilet itu bukan tempat karaktermu menemukan petunjuk penting, bukan tempat dia menyembunyikan sesuatu, atau bukan tempat dia mendapat pencerahan, ya sudah. Cukup sebut, “Dia ke toilet sebentar.”

Nggak semua tempat itu harus jadi Moria atau Hogwarts. Kadang, itu cuma toilet umum.

5. Adegan yang Nggak Penting untuk Plot

Karaktermu terjebak di rapat koordinasi yang membosankan. Kamu mau “Show” dia menguap, melihat jam, mencoret-coret kertas, atau mendengarkan presentasi yang nggak jelas selama dua halaman?

Atau kamu cukup bilang, “Rapat koordinasi tiga jam itu terasa seperti siksaan neraka. Tidak ada keputusan penting yang dihasilkan.”

Kalau adegan itu cuma menunjukkan kebosanan dan nggak ada implikasi plot lainnya, “Tell” saja. Hemat kata, hemat waktu pembaca. Wkwkwk.

Intinya:
“Tell, Don’t Show” itu bukan kelemahan, melainkan alat. Alat untuk efisiensi. Alat untuk mengendalikan informasi. Alat untuk memastikan setiap kata punya bobot. Jangan buang-buang kata untuk hal yang nggak penting. Naskahmu bukan tempat sampah.

—

Kalau naskahmu masih kebanyakan filler, atau bingung kapan harus “tell” atau “show” secara efisien, mungkin ebook “Selesaikan Naskahmu” bisa bantu beresin strukturnya. Di sana, kita bahas gimana caranya bikin setiap adegan punya tujuan, bukan cuma numpang lewat.

—