Naskah yang bagus itu kayak laporan yang langsung ke inti masalah, bukan laporan yang tebalnya tiga jilid tapi isinya cuma pengulangan. Pembaca lo itu sibuk, bre. Mereka butuh cerita yang mengalir, bukan yang bikin mereka harus mikir dua kali buat nyambungin satu kalimat ke kalimat berikutnya.
Maka dari itu, penyederhanaan kalimat itu wajib. Ini bukan cuma soal hemat kata, tapi soal efisiensi komunikasi. Kalau kalimat lo efektif, pembaca nggak bakal cepat bosan, dan mereka bisa fokus sama cerita yang mau lo sampaikan.
Gini caranya:
1. Hapus Kata yang Redundan
Seringkali, kita pakai kata yang sebenarnya nggak perlu karena maknanya sudah terwakili. Ini kayak dobel anggaran proyek, nggak nambah manfaat, cuma bikin laporan jadi tebal.
- Contoh Awal: “Aku mau membeli tiket untuk konser itu untuk temanku.”
- Analisis: Ada dua kata ‘untuk’. Yang kedua itu sebenarnya sudah jelas konteksnya.
- Hasil Revisi: “Aku mau membeli tiket konser itu untuk temanku.”
2. Efisiensi Preposisi
Preposisi (kata depan) seperti ‘di’, ‘ke’, ‘dari’ itu penting, tapi kadang bisa disederhanakan kalau konteksnya sudah jelas.
- Contoh Awal: “Pak Camat berjalan ke meja Pak Lurah di ruang rapat.”
- Analisis: Kalau sudah ada ‘meja ruang rapat Pak Lurah’, ‘di’ itu bisa dihilangkan. Ruang rapat sudah menunjukkan lokasi.
- Hasil Revisi: “Pak Camat berjalan ke meja ruang rapat Pak Lurah.”
3. Hindari Konjungsi Ganda yang Membingungkan
Menggabungkan ‘tetapi’ dan ‘dan’ dalam satu kalimat itu kayak narik rem sambil injak gas. Bingung, bre. Pilih salah satu, atau pisah kalimatnya.
- Contoh Awal: “Michael Corleone ingin hidup jujur, tetapi dia terpaksa masuk ke bisnis keluarga dan tidak bisa melarikan diri.”
- Analisis: ‘Tetapi’ dan ‘dan’ dalam satu tarikan napas bikin kalimatnya berat.
- Hasil Revisi 1 (dipisah): “Michael Corleone ingin hidup jujur. Namun, dia terpaksa masuk ke bisnis keluarga dan tidak bisa melarikan diri.”
- Hasil Revisi 2 (disederhanakan): “Meskipun Michael Corleone ingin hidup jujur, dia terpaksa masuk ke bisnis keluarga.”
4. Jangan Ulang Kata yang Sama Tanpa Tujuan
Ini sering terjadi pada kata kerja berulang atau intensifier. Kata dobel itu kayak stempel dobel di berkas yang sama, nggak nambah validitas, cuma nambah kerjaan.
- Contoh Awal: “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berlari-lari.”
- Analisis: ‘Benar-benar’ dan ‘berlari-lari’ adalah pengulangan. Pilih salah satu.
- Hasil Revisi 1: “Aku tidak mengerti kenapa mereka berlari-lari.”
- Hasil Revisi 2: “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berlarian.”
5. Buang Filter Words atau Intensifier yang Nggak Perlu
‘Amat’, ‘sangat’, ‘sekali’, ‘benar-benar’ – ini semua filter words. Apakah ‘tersenyum amat sangat manis’ itu beda rasanya sama ‘tersenyum manis’ doang? Kalau nggak ngubah plot atau ‘rasa’ di benak pembaca, buang aja. Ini kayak ngasih label ‘sangat penting’ di berkas yang biasa aja. Nggak nambah bobot.
- Contoh Awal: “Dia tersenyum dengan amat sangat manis.”
- Analisis: ‘Amat’ dan ‘sangat’ punya makna yang sama kuatnya. Buang satu, atau bahkan buang keduanya kalau ‘manis’ saja sudah cukup.
- Hasil Revisi: “Dia tersenyum manis.”
Penyederhanaan kalimat ini paling efektif dilakukan di tahap self-editing. Setelah ide lo tertuang semua, baru balik lagi, sisir kalimatnya satu per satu. Ini bukan cuma meringankan kerja editor nanti (mereka bakal seneng banget kalau naskah lo bersih), tapi juga bikin naskah lo lebih kuat.
Naskah yang ‘bersih’ itu kayak laporan keuangan yang nggak ada ‘mark up’. Jujur, padat, dan langsung ke tujuan. Wkwkwk.
Kalau lo mau naskah lo seefisien ini, nggak bertele-tele, dan siap buat pembaca, mungkin sudah saatnya lo belajar cara self-editing yang benar. Jangan cuma nulis, bre, tapi juga poles sampai kinclong.
“Pelajari Teknik Swa-Sunting Lengkap di Ebook Swa-Sunting: Poles Naskahmu Sampai Kinclong!”
*