Majas: Bumbu Atau Racun di Tulisanmu?

Tips Menulis Syafree

Pernah baca novel atau cerpen, terus tiba-tiba merasa tulisan itu “beda”? Bukan cuma ceritanya bagus, tapi cara penulisannya juga terasa lebih… Hidup? Nah, kemungkinan besar itu ulah majas, bre.

Majas, atau gaya bahasa, itu semacam bumbu rahasia. Dia bukan bahan utama, tapi bisa bikin masakanmu terasa lebih nendang. Intinya, majas itu cara kita memanfaatkan kekayaan bahasa buat menciptakan efek tertentu. Biar tulisanmu nggak datar, biar pembaca bisa merasakan, membayangkan, atau bahkan tersindir.

Tapi, hati-hati. Terlalu banyak bumbu bisa bikin masakanmu eneg. Dan ini sering kejadian di penulis pemula. Niatnya mau keren, malah jadi amburadul.

Sebenarnya, apa sih majas itu?

Gini, majas itu bahasa indah yang dipakai buat mempercantik kalimat. Tujuannya cuma satu: bikin pembaca punya kesan imajinatif. Baik itu tulisan atau omongan.

Jenis-jenis Majas (yang penting kamu tahu):

Ada banyak banget jenis majas, sampai pusing kalau dibahas semua. Tapi, ada beberapa yang sering banget kita pakai, bahkan tanpa sadar.

1. Majas Perbandingan

Ini majas yang paling umum. Dia membandingkan satu hal dengan hal lain.
Metafora: Membandingkan dua hal yang punya sifat mirip, tanpa pakai kata “seperti” atau “bagaikan”.
Contoh: “Dia tangan kanan bos di kantor itu.” (Bukan tangan beneran, tapi orang kepercayaan).
Contoh: “Walter White adalah Heisenberg, seorang genius yang terjerumus ke dunia gelap.” (Heisenberg adalah alter ego Walter, bukan nama sebenarnya).
Simile: Mirip metafora, tapi pakai kata “seperti”, “bagaikan”, “umpama”.
Contoh: “Masalahnya rumit, seperti benang kusut.”
Personifikasi: Memberikan sifat atau perilaku manusia ke benda mati atau bukan manusia.
Contoh: “Angin malam membisikkan rahasia.”
Hiperbola: Melebih-lebihkan kenyataan sampai kadang nggak masuk akal.
Contoh: “Suaranya memecah gendang telinga.”
Litotes: Kebalikan hiperbola, merendahkan diri.
Contoh: “Silakan mampir ke gubuk reot saya.” (Padahal rumahnya mewah).
Metonimia: Menggunakan merek atau ciri khas suatu benda untuk menyebut benda itu sendiri.
* Contoh: “Dia minum Aqua setelah lari pagi.” (Maksudnya air mineral, bukan cuma merek Aqua).

2. Majas Sindiran

Ini nih yang sering dipakai buat “nyentil” atau ngasih kritik.
Ironi: Menyindir dengan mengatakan kebalikan dari fakta sebenarnya, tapi dengan nada halus.
Contoh: “Rajin sekali kamu, sampai tugasnya belum dikerjakan.” (Padahal malas).
Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
Contoh: “Otakmu tumpul ya? Soal begini saja tidak bisa.”
Sinisme: Lebih keras dari ironi, mencemooh pemikiran orang.
Contoh: “Kamu kan sudah pintar, kenapa masih bertanya padaku?” (Niatnya merendahkan kemampuan lawan bicara).

3. Majas Penegasan

Majas ini dipakai buat memperkuat suatu pernyataan.
Repetisi: Mengulang kata atau frasa yang sama.
Contoh: “Dia akan datang, pasti dia akan datang.”
Klimaks: Menyusun ide dari yang sederhana ke yang lebih penting.
Contoh: “Dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, semua menyukai film itu.”
Antiklimaks: Kebalikan klimaks, dari yang penting ke yang sederhana.
Contoh: “Miliarder, politisi, sampai tukang cilok, semua antre di warung itu.”

Harus Pakai Majas Semua?

Wkwkwk, jangan, bre. Kalau kamu pakai semua majas dalam satu tulisan, bukannya bikin keren, malah bikin pembaca pusing tujuh keliling. Kayak makan nasi padang pakai semua bumbu rendang, gulai, sambal ijo, dan bumbu sate dicampur jadi satu. Nggak karuan rasanya.

Tujuan majas itu memperkaya, bukan memperumit. Pilih majas yang pas, yang relevan dengan emosi atau suasana yang mau kamu bangun. Kalau kamu mau karaktermu dingin dan sinis, pakai ironi atau sarkasme. Kalau mau suasana dramatis, mungkin hiperbola bisa dipakai.

Banyak penulis pemula yang niatnya pakai majas, tapi jadinya malah aneh atau nggak nyambung. Maksudnya mau ke A, tapi pembaca nangkepnya Z. Ini karena mereka fokus sama “memakai majas” daripada “memperkuat cerita”.

Jadi, intinya, gunakan majas dengan bijak. Dia alat, bukan tujuan. Kalau tulisanmu sudah kuat tanpa majas pun, itu sudah bagus. Tapi kalau majas bisa bikin tulisanmu lebih berbobot, kenapa tidak?

Itu saja dulu. Semoga bermanfaat.

Kalau kamu masih sering bingung bagaimana merangkai kata atau menyunting tulisanmu biar lebih rapi dan efektif, mungkin “Ebook Swa-Sunting” bisa jadi panduanmu. Di sana, saya bedah tuntas cara memperbaiki tulisanmu sendiri, termasuk soal pilihan kata dan gaya bahasa, biar nggak cuma “ada majasnya” tapi juga “pas gunanya”.

—