TROPE ROMANSA: KLASIK YANG BIKIN CUAN (BAGIAN 1)

Tips Menulis Syafree

Jika kamu suka baca atau nonton cerita romantis, mustahil nggak ketemu trope. Itu kayak bumbu wajib. Adegan yang bikin kamu senyum kecut, “Sudah kuduga.”

Trope itu apa sih? Gini.

Trope cerita, mau di buku atau film, itu situasi yang sudah bisa ditebak antara dua karakter. Tapi justru itu yang bikin cerita maju. Tanpa trope, kayak makan sayur tanpa garam. Hambar.

Trope bisa ditemukan di genre mana saja. Fantasi, horor, sejarah, semua punya. Tapi, yang paling terkenal dengan skenario klise tapi dicari-cari pembaca ya genre romansa ini. Kenapa? Karena pembaca romansa itu punya ekspektasi. Dan kita, penulis, harus bisa memenuhinya, bre.

#### Subgenre Romansa Itu Banyak Macamnya

Kalau kamu mau nulis kisah cinta, hal pertama yang harus diputuskan itu subgenrenya. Di genre romansa, pembaca umumnya berharap dua (atau lebih) karakter jatuh cinta dan berakhir “bahagia selamanya” (atau setidaknya “bahagia untuk sekarang”).

Tapi, waktu cerita itu dibuat, latar, dan karakter itu sendiri yang akan menentukan subgenrenya.

Mari kita lihat beberapa subgenre utama:

  1. Historis: Latar waktunya di masa lalu. Bahkan tahun 90-an sudah dihitung historis. Kita makin tua, bre.
  2. Fantasi: Latar di dunia yang beda dari kita. Ini termasuk fiksi ilmiah, distopia, atau romansa paranormal. Ada vampir, penyihir, atau alien yang jatuh cinta? Masuk sini.
  3. Rom-Com (Komedi Romantis): Karakter harus melewati serangkaian kejadian konyol, lucu, dan kadang bikin malu sebelum akhirnya bersatu. Intinya, banyak ketawa, banyak drama receh.
  4. Natal/Perayaan: Kategori baru tapi makin populer. Buku-buku yang latarnya pas musim liburan atau perayaan tertentu. Hangat, manis, dan seringkali bikin mual. Wkwkwk.
  5. Erotis: Kisah cinta yang plotnya berputar di sekitar seks. Bukan sebaliknya. Bisa BDSM, kink, karakter LGBT, dan banyak subgenre lagi di dalamnya. Pokoknya, ini bukan buat dibaca bareng keluarga.
  6. Dewasa Muda (YA – Young Adult): Novel romansa buat remaja. Seringnya tentang cinta pertama, dan semua drama yang bikin kepala pusing kalau dua anak muda jatuh cinta.
  7. Religius/Spiritual: Seringnya fiksi Kristen atau fiksi “bersih”. Sedikit ketegangan seksual, nggak ada adegan ranjang. Atau bisa juga tentang karakter yang menemukan jati diri secara spiritual, sambil menemukan pasangan.
  8. LGBTQ: Novel romansa yang menggambarkan cinta antara siapapun yang tidak mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual. Ini bisa digabungkan dengan subgenre di atas.

Cerita romantis nggak harus masuk satu kategori saja. Contohnya, ‘Outlander’ itu romansa yang panas, fantasi, dan historis. Atau ‘Red, White and Royal Blue’ itu rom-com, YA, dan LGBTQ, tentang anak presiden AS yang jatuh cinta sama pangeran Inggris. Campur aduk, tapi tetap laku keras.

#### Kenapa Trope Penting buat Pembaca Romansa?

Nggak peduli trope apa yang dipakai, trope romansa yang populer itu yang bisa menyatukan pasangan, terus menciptakan ketegangan dan tempo dalam cerita.

Dengan setiap trope, penulis menyatukan karakter mereka, lalu merobeknya lagi. Ini nggak cuma membangun ketertarikan dan tensi, tapi juga meningkatkan taruhan dan bikin pembaca nggak bisa lepas.

Tujuan utama kita sebagai penulis romansa itu satu: bikin pembaca penasaran, “Mereka bakal jadian nggak ya?” Terus, di akhir, kita pastikan mereka jadian. Itu saja yang pembaca romansa mau. Rasa sakit dan penderitaan dari cinta yang mustahil, diikuti manisnya kemenangan cinta.

Akhir yang bahagia itu memberi kita harapan. Bikin kita percaya kalau kita juga bisa menemukan cinta. Bikin dunia terlihat lebih baik, meskipun cuma di buku. Inilah yang diharapkan pembaca romansa. Jangan kecewakan mereka!

Di bagian selanjutnya, kita akan bongkar 20 trope romansa paling kuat dan bagaimana cara membuatnya terasa segar.

—

Sampai sini dulu, bre. Kalau kamu merasa sering mentok di bagian ide cerita, atau bingung bagaimana merangkai plot yang bikin pembaca penasaran sampai akhir, mungkin ebook “Selesaikan Naskahmu” bisa jadi panduanmu. Di sana saya bahas proses merancang cerita dari nol sampai selesai, termasuk cara mengelola ekspektasi pembaca dan bikin alur yang nggak gampang ditebak. Cek saja di link bio.

—