Nulis Itu Nyolong Waktu, Bukan Nunggu Ilham

Tips Menulis Syafree

Pasti banyak yang nanya, “Gimana sih cara bagi waktu nulis kalau hidup sendiri udah kayak sirkus?”

Jujur aja, bre. Nggak mungkin kan kita ngayal terus seharian? Anak nangis, tagihan numpuk, bos ngamuk. Realita itu lebih kejam dari plot twist di novelmu. Wkwkwk.

Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Gimana aku nyolong waktu buat nulis di tengah tumpukan kerjaan birokrasi dan drama rumah tangga.

1. Buat Outline. Wajib, titik.

Outline itu bukan cuma buat fiksi. Ini peta jalanmu. Poin-poin cerita, per bab, atau adegan kunci. Pokoknya, kerangka. Kalau nggak ada ini, ya ambyar.

Dengan outline, kamu bisa nulis meski harus terjeda aktivitas harian. Otakmu nggak perlu mikir “abis ini apa ya?” lagi. Tinggal lihat peta.

Contoh: Kamu mau nulis adegan Walter White pertama kali masak sabu di gurun. Outline-nya cuma itu. Dari situ, kamu bisa gali 500 kata tentang ketegangannya, detail prosesnya, bau kimianya. Selesai 500 kata? Balik lagi nyuci piring. Nggak perlu nunggu mood, nggak perlu mikir panjang. Kalau nggak ada outline? Dijamin bingung, lupa, dan malah buang waktu.

2. Target Harian yang Realistis

Aku nggak muluk-muluk. Biasanya targetku itu lima halaman kotor untuk novel, atau satu bagian utuh untuk cerita pendek. Sekali duduk. Setelah itu, kalau ada waktu, baru sikat edit. Kalau nggak ada, ya udah. Tinggal dulu naskah mentah itu sampai besok. Ini bukan lomba lari maraton, ini soal konsistensi. Kalau bisa lebih, itu bonus. Kalau nggak, ya udah. Jangan jadi beban.

3. Pagi atau Malam? Kenali Dirimu

Ada yang otaknya ngebul pas pagi, ada yang pas malam. Aku pribadi? Tim pagi. Otak masih fresh, belum terkontaminasi sampah birokrasi. Biasanya aku nulis sekitar dua sampai tiga jam. Istirahat sejam, kalau bisa lanjut ya lanjut satu jam lagi. Maksimal. Sisanya? Ya kerja rodi lagi di dunia nyata.

Cari tahu, kamu itu ‘makhluk’ pagi atau malam? Jangan memaksakan diri. Kalau kamu produktif malam, ya sikat malam. Intinya, manfaatkan waktu terbaikmu.

4. Selesaikan Dulu Urusan Dunia Nyata

Ini kunci utama. Lebih baik kerjakan semua yang menyita perhatianmu dulu. Cucian numpuk? Bereskan. Laporan kantor? Sikat. Pacar ngambek? Ya urus, bre. Wkwkwk.

Kenapa? Karena kalau pikiranmu masih nyangkut di cucian kering yang belum diangkat, atau di email bos yang belum dibalas, fokusmu buyar. Percuma duduk di depan laptop berjam-jam kalau otakmu ke mana-mana. Selesaikan dulu, biar pas nulis, kamu bisa fokus total. Walau cuma 30 menit.

5. Aktifkan Mode Jangan Ganggu di HP

HP itu pisau bermata dua. Sumber riset, tapi juga sumber distraksi paling parah. Kalau nggak butuh internet buat riset, matikan notifikasinya. Atau setidaknya, aktifkan mode jangan ganggu. Kalau mau lebih tenang, mode pesawat. Atau paling ekstrem, jauhkan HP-mu. Dunia maya bisa nunggu. Ide yang lewat? Nggak bisa.

6. Manfaatkan Catatan di HP

Ini penyelamat. Ide itu kayak kentut. Kadang datang tiba-tiba, kadang bau tapi nggak bisa ditahan. Wkwkwk. Langsung sikat ke catatan HP. Atau voice note. Bahkan part utuh. Ini juga berguna kalau koneksi internetmu labil, atau kamu lagi di tempat tanpa laptop. Nulis di HP, nanti tinggal salin. Lebih mudah diedit juga.

7. Pakai Voice Note

Kadang ide datang begitu cepat, sampai nggak sempat nulis. Nah, ini gunanya voice note. Rekam saja apa yang terlintas. Jabarkan dengan suaramu. Dialog yang muncul di kepala? Rekam. Detail adegan? Rekam. Jangan sampai ide itu hilang begitu saja karena kamu sibuk nyari pena.

Intinya, bre, menulis itu bukan soal punya waktu luang. Tapi soal menciptakan waktu luang. Atau lebih tepatnya, mencuri waktu dari jadwal padatmu. Ini soal disiplin dan strategi.

Kalau kamu masih sering mentok di tengah jalan, bingung gimana menyusun ide biar nggak berantakan pas dicicil, atau naskahmu nggak kelar-kelar padahal udah niat, mungkin kamu butuh panduan untuk ‘Selesaikan Naskahmu‘. Ini bukan janji manis, ini sekadar logbook yang kurapikan. Kalau butuh, ambil.

—