Wkwkwkwk. Jangan buru-buru mikir tulisanmu bakal basi cuma karena ada kiasan atau klise, bre. Terkadang, kita cuma perlu tahu kapan dan gimana mainin kartu ini.
Apa Itu Kiasan (Trope)?
Kiasan itu situasi, karakter, atau alur cerita yang umum, yang sering muncul di fiksi. Ibaratnya, itu kayak cetakan yang pembaca udah hafal. Bukan berarti jelek. Malah, kalau kamu bisa pakai kiasan ini dengan cerdas, bisa jadi jalan pintas buat narik minat pembaca dan bahkan, ya, cuan.
Mustahil nulis cerita tanpa kiasan. Pasti ada aja yang nyangkut. Contohnya:
- Pahlawan yang Enggan: Tokoh utama yang awalnya gak mau terlibat masalah, tapi akhirnya terpaksa jadi pahlawan. Contoh paling gampang ya Neo di The Matrix atau bahkan Walter White di Breaking Bad yang awalnya guru kimia culun.
- Mentor Bijaksana yang Misterius: Ada karakter tua yang muncul tiba-tiba, ngasih wejangan, lalu hilang entah ke mana. Kayak Yoda di Star Wars, atau Om Liem di Laskar Pelangi (wkwkwk, ini pengecualian).
- Musuh Jadi Kekasih: Dari benci jadi cinta. Klise? Iya. Tapi efektif? Sering banget. Pembaca suka ketegangan macam ini.
- Permainan Hidup Mati: Sekelompok orang dipaksa ikut permainan brutal dengan nyawa sebagai taruhan. Squid Game itu kiasan yang berhasil dikemas ulang dengan kritik sosial yang tajam.
Kiasan itu bisa karakter, dinamika antar karakter, motivasi, sampai plot utama. Jadi, ini bukan musuh, melainkan bahan dasar.
Bagaimana Menggunakan Kiasan dengan Cerdas?
Kunci: Sengaja. Pembaca itu udah punya gambaran awal soal kiasan. Kalau kamu pakai “pahlawan enggan”, mereka udah bisa nebak sedikit alurnya. Tugasmu adalah memberi mereka kejutan di tengah jalan.
- Pahami Kiasannya: Tonton film, baca buku di genre yang kamu tulis. Riset. Ngobrol sama orang. Jangan sampai kamu pakai kiasan yang justru berbahaya atau stereotip regresif (misalnya, karakter minoritas selalu jadi korban atau mati duluan). Itu namanya penulis malas dan gak peka.
- Putar Balik Harapan: Pembaca expect A, kamu kasih B. Di Squid Game, kiasan “survival game” dipakai, tapi motivasi di baliknya bukan cuma soal bertahan hidup, tapi kritik keras ke sistem ekonomi. Itu yang bikin kiasan jadi segar. Walter White, awalnya kiasan “ayah yang berjuang demi keluarga”, tapi kemudian jadi “raja narkoba yang haus kekuasaan”.
Apa Itu Klise?
Nah, kalau klise ini beda. Klise itu ungkapan atau frasa yang udah terlalu sering dipakai, sampai kehilangan maknanya. Basi. Kayak nasi kemarin. Kalau kiasan itu cetakan, klise itu cetakan yang udah retak dan gak bisa dipakai lagi tanpa direnovasi total.
Klise itu indikasi penulis malas. Jalan pintas paling jelek. Kamu pengin bilang “sedih banget”, malah nulis “hatiku hancur berkeping-keping”. Pembaca udah bosen dengarnya.
Contoh kalimat klise di Indonesia:
- “Bagai pinang dibelah dua.”
- “Tak ada gading yang tak retak.”
- “Dunia tak selebar daun kelor.”
- “Hanya waktu yang akan menjawab.”
- “Setia sampai mati.”
- “Cinta pada pandangan pertama.”
- “Mencari jarum dalam tumpukan jerami.”
- “Hidup segan mati tak mau.”
Bagaimana Mengubah Klise?
Klise itu bisa dipakai, tapi harus dipelintir. Dikasih sentuhan baru.
- Putar Satu Kata: Misal, dari “menghilang ke udara tipis” jadi “menghilang ke udara tebal.” Langsung beda rasanya.
- Tambahkan Lapisan: Ambil klise “mengubur kapak” (berdamai). Kamu bisa ubah jadi: “Aku mengubur kapak, tapi peta lokasinya masih kusimpan di laci meja.” Ini nunjukkin karakter yang gak sepenuhnya memaafkan.
- Geser Harapan: Kalau kamu tahu pembaca bakal nebak akhir kalimatmu, itu tanda kamu pakai bahasa yang lelah. Coba ganti kata-katanya. Misal, dari “dia tampak seperti sejuta dolar” jadi “dia tampak seperti sejuta dolar bebas pajak.” Langsung ada sentuhan sinis yang Sapril banget. Hahah.
- Pakai di Dialog: Orang sehari-hari sering pakai klise. Jadi, kalau karaktermu yang norak, lugu, atau sedang tertekan ngomong pakai klise, itu malah realistis. Tapi ingat, ini khusus dialog. Di narasi, kamu lagi tipis-tipis di atas es.
Intinya, bre: kiasan itu pondasi. Klise itu dekorasi yang udah usang. Keduanya bisa jadi alat, tapi harus dipakai dengan sadar, sengaja, dan cerdas. Jangan jadi penulis malas yang cuma comot sana-sini tanpa mikir.
Kalau kamu mau tulisanmu rapi, gak cuma soal ide dan alur, tapi juga soal pilihan kata dan kalimat yang kuat, mungkin kamu butuh panduan lebih detail. Ini logbook yang kurapikan, hasil dari percobaan dan kesalahan. Kalau butuh, ambil.
Butuh panduan buat ngerapihin tulisanmu, membuang klise-klise basi, dan bikin bahasamu lebih tajam? Coba cek ebook Swa-Sunting.