Jangan Bikin Karakter Utama yang Bikin Pembaca Muak. Ini Daftarnya.

Tips Menulis Syafree

Bre, mau nulis cerita yang dibaca sampai habis? Atau cerita yang baru bab dua sudah dilempar ke tong sampah? Pilihan ada di tanganmu. Tapi kalau mau yang kedua, gampang. Bikin saja karakter utama yang bikin pembaca muak.

Aku mengamati, ada beberapa tipe karakter utama yang jaminan mutu bakal bikin pembaca minggat. Ini daftarnya:

1. Si Bodoh Abadi

Boleh saja karaktermu tidak tahu satu atau dua hal. Manusiawi. Tapi kalau dari A sampai Z dia tidak tahu apa-apa, atau lebih parah, dia tahu tapi memilih keputusan tolol berulang kali tanpa belajar? Itu bukan lagi lugu, itu namanya bikin kesal.

Pembaca itu, apalagi kita yang sudah kenyang asam garam dunia birokrasi, butuh karakter yang setidaknya punya akal sehat. Cepat tanggap. Bisa mikir. Bukan yang diajak ngomong tidak nyambung atau melakukan kesalahan yang sama berulang kali karena kebodohannya sendiri. Rasanya mau jitak, kan? Wkwkwk.

Contoh paling gampang, coba lihat karakter seperti Walter White di awal Breaking Bad. Dia memang tidak punya banyak pengalaman di dunia kriminal, tapi dia pintar kimia. Dia belajar. Dia beradaptasi. Bukan cuma bengong dan bikin masalah terus-menerus.

2. Si Kejam Tanpa Alasan

Karakter kejam itu beda dengan karakter anti-hero. Anti-hero seperti Michael Corleone di The Godfather memang melakukan hal kejam, tapi kita mengerti motivasinya. Ada alasan, ada konteks. Dia melindungi keluarga, membangun kekuasaan.

Tapi kalau karaktermu kejam tanpa motivasi jelas, hanya karena dia memang bajingan dari lahir? Susah dapat simpati, bre. Pembaca butuh sedikit celah untuk bisa terhubung. Sedikit saja. Kalau cuma kejam, arogan, dan tanpa empati, siapa yang mau peduli nasibnya?

3. Si Plin-plan Tanpa Tujuan

“Aku bingung…” “Aku tidak tahu…” “Gimana ya…?”

Kalau karakter utamamu kebanyakan dialog seperti ini, mending ganti saja jadi karakter pendukung. Karakter utama itu yang menggerakkan cerita. Dia punya tujuan, meski tujuannya itu nanti berubah di tengah jalan. Dia punya motivasi, meski motivasinya itu nanti diuji. Dia punya pendirian, meski pendiriannya itu nanti dipertanyakan.

Arthur Fleck di Joker punya tujuan: ingin jadi komedian, ingin bahagia, ingin diterima. Bruce Wayne punya tujuan: membalas dendam, melindungi Gotham. Jelas. Tidak plin-plan. Pembaca ikut karena ada arah yang dituju.

4. Si Hati Batu Kosong

Karakter yang tidak peduli pada siapa pun, tidak punya hobi, tidak punya hewan peliharaan, tidak punya hal yang disukai. Hidupnya cuma jalan-jalan dan membenci orang lain. Kosong. Hampa.

Mungkin kamu mau bikin karakter dingin, tapi dingin itu beda dengan hampa. Karakter dingin biasanya punya “sesuatu” yang dia pedulikan, meski itu hanya satu hal kecil. Atau dia punya masa lalu yang membentuk kekosongan itu.

Kalau kosong melompong, pembaca tidak akan menemukan apa pun untuk digenggam. Tidak ada empati, tidak ada koneksi. Sama saja kayak ketemu birokrat paling dingin di kantor, cuma senyum tipis, kerja, terus pulang. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan, kan? Wkwkwk.

5. Si Pasif Tanpa Keahlian

Dia ceroboh. Tidak bisa apa-apa. Kalau tidak disuruh, tidak bergerak. Ini bukan karakter utama, ini patung.

Karakakter utama itu harus aktif. Dia yang inisiatif. Dia yang ambil tindakan. Berikan dia satu atau dua keahlian, bre. Tidak perlu selevel Katniss Everdeen yang jago memanah. Cukup keahlian kecil yang bisa dipakai untuk menggerakkan cerita.

Misalnya, dia jago meretas sistem komputer tapi payah dalam interaksi sosial. Atau dia punya ingatan fotografis tapi tidak bisa mengambil keputusan cepat. Keahlian ini bisa jadi pemicu konflik, solusi masalah, atau sekadar membuat karakter lebih hidup.

Kenapa Penting?

Mungkin kamu bertanya, “Memangnya harus bikin karakter yang disukai pembaca?” Jawabannya: YA.

Pembaca harus setidaknya punya simpati pada karakter utamamu. Kalau tidak suka, mereka akan pergi. Itu sudah pasti. Apalagi kalau kamu niatnya mau cuan dari tulisan. Pembaca itu raja. Kalau raja tidak suka, ya sudah, wassalam.

Jadi, buat karaktermu aktif, punya tujuan, dan setidaknya punya satu kualitas yang bisa membuat pembaca bersimpati. Meski awalnya menyebalkan, berikan “sesuatu” yang membuat pembaca bertahan.

Semoga ini bisa jadi panduan, bre.

—

Mau karaktermu lebih hidup dan cerita jadi tidak membosankan? Pelajari cara membangun karakter yang kuat dan plot yang rapi di Ebook “Selesaikan Naskahmu”. Klik di sini untuk detailnya.

—