Belajar Menulis dari George R.R. Martin: Bukan Cuma Soal Naga dan Kematian

Tips Menulis Syafree

Bre, siapa sih yang nggak kenal George R.R. Martin? Penulis A Song of Ice and Fire yang diadaptasi jadi Game of Thrones itu. Orang bisa ngeluh dia lambat nulis, atau hobi bunuh karakter favorit, tapi satu hal yang nggak bisa dipungkiri: dia bisa nulis. Dia ambil sejarah Inggris, campur klise fantasi, terus jadi epik yang bikin jutaan orang terhipnotis. Dia memang jago.

Mungkin karya dia bikin penulis pemula gentar. Tapi justru di situ pelajarannya: jangan batasi imajinasimu. Jangan cepat-cepat menyerah. Mungkin jangan langsung nulis epik tujuh buku sebagai proyek pertama, tapi ingat kata Martin: fiksi itu tanpa batasan. “Ketika saya kembali ke prosa, tiba-tiba tidak ada batasan: saya dapat menulis sesuatu yang besar dengan semua karakter yang saya inginkan, dengan pertempuran, naga, dan pengaturan yang sangat besar,” katanya. “Tentu saja, saya pikir ini tidak dapat difilmkan dan bahwa saya tidak perlu khawatir tentang Hollywood lagi. Tapi itu masalah David Benioff dan Dan Weiss sekarang.” hahah.

Jadi, apa saja yang bisa kita comot dari dia?

1. Semua Tindakan Punya Konsekuensi

Di dunia Martin, setiap pilihan punya efek domino. Tindakan “baik” belum tentu berbuah manis, “buruk” belum tentu langsung dihukum. Tapi pasti ada konsekuensinya. Contohnya, upaya Walter White di Breaking Bad untuk “melindungi keluarga” justru menyeret mereka ke jurang yang lebih dalam. Atau bagaimana ambisi Michael Corleone di The Godfather untuk melegitimasi keluarga malah memaksanya berlumuran darah lebih banyak. Martin bilang, “Saya bisa saja menulis cerita tentang keluarga yang harmonis… Apakah itu akan semenarik itu?” Tentu saja tidak. Konflik itu bumbu.

2. Bangun Alam Semestamu Sendiri

Martin ini jagonya world-building. Dia percaya, setiap penulis harus bikin dunianya sendiri. Jangan cuma pinjam dunia orang lain. “Menulislah setiap hari, meskipun hanya satu atau dua halaman,” kata Martin. “Tapi jangan menulis di alam semesta saya, atau alam semesta Tolkien, atau alam semesta Marvel… Setiap penulis perlu belajar menciptakan karakter, dunia, dan latarnya sendiri. Menggunakan dunia orang lain adalah jalan keluar yang malas.” Ini soal melatih “otot sastra” biar makin kuat. Kalau cuma numpang, ototmu nggak akan berkembang.

3. Menulis dari Kebenaran Emosional

Bukan berarti kamu harus nulis otobiografi. Tapi, tulis dari “kebenaran emosional”. Seberapa pun fantastisnya karaktermu—misalnya, pahlawan super seperti Batman—rasakan emosi di baliknya. Kalau karaktermu kehilangan orang yang dicintai, gali pengalamanmu sendiri kehilangan. Mungkin bukan orang, tapi hewan peliharaan masa kecil. Ketuk aliran energi emosional itu. Ini mirip aktor yang pakai method acting. Kita hanya benar-benar tahu diri kita sendiri dari dalam. Gunakan itu.

4. Terima Hari Baik dan Buruk

Menulis itu maraton, bukan sprint. Ada hari-hari di mana ide mengalir deras, kata-kata menari-nari. Martin bilang, “Pada hari-hari baik saya melihat ke atas dan di luar gelap dan sepanjang hari telah berlalu dan saya tidak tahu ke mana perginya.” Tapi ada juga hari-hari berat. “Di mana saya berjuang dan berkeringat setengah jam berlalu dan saya telah menulis tiga kata… Terkadang Anda memakan beruang dan terkadang beruang memakan Anda.” Santai saja. Kalau macet, istirahat, main game komputer. Besok coba lagi.

5. Hindari Klise Genre

Martin memang penulis fantasi, tapi dia merobohkan banyak klise. Dia nggak suka moralitas hitam-putih. Hidup itu abu-abu. Perang itu bukan cuma soal kebaikan vs kejahatan, tapi soal harga yang harus dibayar manusia. Ingat adegan-adegan di film perang seperti Saving Private Ryan atau Apocalypse Now? Ada kerugian manusia yang brutal, bahkan dari perang yang dianggap “mulia”. Martin coba tunjukkan itu. “Sejarah nyata lebih kompleks,” katanya.

6. Cintai Genre yang Kamu Tulis (Tapi Tetap Kritis)

Meskipun mengkritik klise fantasi, Martin tetap cinta genrenya. Ini soal keseimbangan: tambahkan kebenaran emosional, temukan kekurangan genre, tapi tetap rayakan keindahannya. Dia bilang, “Rasa fantasi habaneros dan madu, kayu manis dan cengkeh… Kenyataannya adalah kacang dan tahu, dan abu di ujungnya.” Fantasi itu pelarian, tapi juga bisa jadi cermin realitas yang lebih dalam.

7. Temukan Kemanusiaan di Setiap Karakter

Dari karakter suci sampai psikopat, Martin selalu mencari sisi manusiawi mereka. “Untuk masuk ke dalam kulit mereka, saya harus mengidentifikasi dengan mereka,” katanya. Bahkan untuk karakter sejahat Arthur Fleck di Joker, kita diajak melihat dunia dari sudut pandangnya, memahami mengapa dia menjadi seperti itu. Bukan simpati, tapi empati. Ini membuat karakter terasa nyata, tidak sekadar karikatur.

8. Pangkas “Lemak”

Percaya atau tidak, Martin juga memangkas banyak tulisannya. Setelah naskah selesai, dia akan memotong, memadatkan. “Saya benci kehilangan hal-hal bagus,” katanya, “tapi saya akan melalui skrip yang memangkas dan mengencangkan baris demi baris dan kata demi kata, memotong lemak dan meninggalkan otot.” Hasilnya? Teks yang lebih padat dan kuat. Ini penting, bre. Nggak semua kata itu berharga.

9. Tulis dari Sudut Pandang Tertentu

Meskipun epik, Martin mendasarkan ceritanya pada sudut pandang karakter tertentu. Kita lebih tertarik pada perjalanan seorang tokoh seperti John Wick daripada sejarah umum dunia pembunuh bayaran. “Saya sangat percaya dalam bercerita melalui sudut pandang orang ketiga yang terbatas tapi sangat ketat,” jelasnya. “Tak satu pun dari kita memiliki sudut pandang mahatahu; kita sendirian di alam semesta… Saya ingin menempatkan pembaca saya di kepala karakter saya.”

10. Garis Besar (Outline) Itu Pilihan

Martin bilang, nggak ada cara menulis yang salah. Kamu mau pakai outline atau jadi “tukang kebun” yang menanam benih dan melihat apa yang tumbuh, itu terserah. “Arsitek merencanakan segalanya jauh-jauh hari… Tukang kebun menggali lubang, memasukkan benih dan menyiramnya,” katanya. Martin sendiri lebih ke “tukang kebun”. Cari tahu kekuatanmu, dan jadikan itu caramu menulis. Jangan ikut-ikutan kalau nggak cocok.

11. Belajar dari Semua yang Kamu Baca

Terakhir dan paling penting: BACA. Baca semuanya. Fiksi, nonfiksi, majalah, koran, sejarah, biografi, misteri, fantasi, horor. “Setiap penulis memiliki sesuatu untuk diajarkan kepada Anda, baik atau buruk,” kata Martin. Dari buku yang bagus, kamu belajar apa yang harus dilakukan. Dari buku yang jelek, kamu belajar apa yang tidak boleh dilakukan. Ini benar sekali.

Semoga tips ini berguna, bre. Menulis itu perjalanan panjang dan berliku.

—

Kalau kamu merasa naskahmu masih “berlemak” dan butuh dipangkas agar lebih padat dan kuat, atau bingung bagaimana merapikan struktur kalimatmu, Ebook Swa-Sunting bisa jadi panduanmu. Cek link di bio untuk info lebih lanjut.

—