Menulis itu, bre, bukan cuma soal bakat atau ide gila. Itu kerja keras. Dan seperti kerja keras lainnya, kita butuh alat tempur yang mumpuni. Bukan cuma Word atau Google Docs. Ada beberapa aplikasi lain yang kalau kau pakai, hidupmu sebagai penulis bisa lebih teratur. Lebih efisien. Dan yang paling penting, lebih cepat menghasilkan naskah yang rapi.
Mari kita bongkar satu per satu.
1. KBBI Daring (atau Offline)
Ini wajib. Titik. Bukan cuma biar tulisanmu kelihatan “pintar”, tapi biar baku. Biar rapi. Biar tidak bolak-balik direvisi redaktur karena salah ejaan atau penggunaan kata. Kalau bisa, pakai versi luring (offline). Kenapa? Karena saat menulis, konsentrasi itu mahal. Sekali kau buka peramban untuk KBBI daring, bisa-bisa langsung nyasar ke Instagram atau portal berita. Habis sudah jam kerjamu. Wkwkwk.
KBBI ini senjata utama untuk validasi kosakata, memastikan penulisan yang sesuai PUEBI. Anggap saja ini SOP standar yang harus kau patuhi, biar tidak jadi masalah di kemudian hari.
2. Kamus Bahasa Asing (Luring lebih baik)
Sama seperti KBBI, ini soal efisiensi. Kau pasti sesekali butuh mencari padanan kata bahasa Inggris atau bahasa lain. Google Translate memang ada, praktis. Tapi untuk kerja serius, untuk mencari nuansa kata yang pas, kamus luring jauh lebih bisa diandalkan. Lagi pula, tidak semua penulis punya koneksi internet stabil di sarang kerjanya, kan? Apalagi kalau kau macam aku, sering menulis di tempat-tempat yang sinyalnya naik turun macam harga saham.
Ini bukan soal pamer kemampuan bahasa asing, tapi soal presisi. Jangan sampai niatnya keren, malah jadi salah kaprah.
3. Tesaurus Indonesia
Kalau yang ini, aku masih sering pakai yang daring. Tesaurus ini berguna banget. Jujur saja, kadang kita terjebak di satu kata yang itu-itu saja. “Dia marah.” “Dia marah lagi.” “Dia sangat marah.” Bosan, kan? Dengan tesaurus, kau bisa cari padanan kata seperti “murka”, “geram”, “kesal”, “berang”, atau “tersinggung”. Setiap kata punya nuansa berbeda. Ini penting untuk menjaga tulisanmu tetap hidup, tidak monoton, dan bisa menyampaikan emosi atau situasi dengan lebih akurat.
Ini bukan soal “memperkaya kosa kata” dalam arti bloat, tapi soal memilih kata yang paling pas untuk sebuah adegan. Efektif.
4. Canva
Aplikasi desain. Ini penting, bre, terutama kalau kau berencana menerbitkan bukumu secara independen atau sekadar bikin promosi kecil-kecilan. Daripada bayar desainer mahal-mahal untuk mockup sederhana atau poster promosi, Canva bisa jadi solusi. Fiturnya banyak, gampang dipakai, dan yang terpenting: GRATIS.
Kau bisa bikin cover sederhana, materi promosi untuk media sosial, atau bahkan infografis untuk tips menulis. Ini alat tempur untuk aspek visual bukumu. Jangan kira pembaca cuma lihat isi, bungkus juga penting. Kalau bungkusnya acak-acakan, orang malas melirik.
5. Trelby (atau alternatif gratis lainnya untuk skrip)
Mungkin kau tidak menulis skenario film atau serial. Tapi kalau suatu saat tertarik, atau ingin mencoba format yang berbeda, Trelby ini patut dicoba. Standar industri memang Final Draft, tapi itu berbayar dan lumayan mahal. Untuk pemula atau sekadar latihan, Trelby ini lebih dari cukup. Gratis, mudah digunakan, dan hasilnya rapi sesuai standar format skenario.
Ini soal fleksibilitas. Jangan terpaku pada satu format saja. Siapa tahu suatu hari naskahmu cocok diadaptasi ke layar lebar atau serial. Punya alatnya dari awal tidak ada ruginya.
Penutup
Jadi begitu, bre. Ini daftar alat tempur digital yang sering aku pakai di luar pengolah kata. Bukan cuma soal menulis, tapi juga soal efisiensi, kerapian, dan persiapan untuk “perang” selanjutnya: promosi dan penerbitan.
Kalau kau sering pusing dengan tata bahasa, tanda baca, atau bagaimana merapikan naskahmu agar layak terbit, mungkin kau butuh panduan lebih lanjut. Aku punya logbook yang kurapikan jadi ebook bernama “Swa-Sunting”. Isinya panduan praktis untuk membedah dan merapikan naskahmu sendiri. Kalau butuh, ambil. Anggap saja ini catatan dari birokrat yang muak dengan revisi tak berujung.
—